Guru-guru Awal Silat Beksi
Silat Beksi yang ada di Petukangan sekarang, diyakini secara turun-temurun berasal dari 5 sosok utama, yaitu: H.
Godjali, H. Hasbullah, Simin, Muhammad Nur dan Mandor Minggu. Fokus tulisan
pada bagian ini, hanya membahas kelima tokoh tersebut, karena dari kelima
tokoh tersebut penyebaran silat Beksi sampai ke Petukangan dan daerah-daerah
di sekitarnya.
H. Godjali
H. Godjali, menurut penuturan lisan, dilahirkan sekitar
tahun 1859-1860. H. Godjali sendiri adalah paman dari H. Hasbullah. Ayah H.
Godjali, H. Gatong, adalah seorang Bumiputra tuan tanah dan saudagar kaya
terkenal di seantero Petukangan. Ibu dari H. Godjali, adalah wanita peranakan
Tionghoa bernama Nyi An Ie Ong, tetapi penduduk sekitar menyebutnya Nyi Anyong,
karena sulitnya mengucapkan dalam ejaan Mandarin. H. Godjali memiliki 7 saudara
lainnya, tetapi dia merupakan anak satu-satunya dari H. Gatong yang
berkeinginan kuat belajar silat, sehingga dia diberikan segala apa yang
dimiliki oleh ayahnya, tetapi secara disiplin dan teratur.
H. Godjali sebelum dikenal sebagai ahli silat, adalah
pemusik handal, yaitu sebagai salah satu dari empat personel grup rebana dari kampung Petukangan. Keahlian dan ketenaran grupnya, menjadikannya sering dipanggil ke berbagai daerah di luar Petukangan. Melalui keahliannya ini, dia sampai
ke daerah Dadap, Tangerang, dimana dia mendapatkan keahliannya sebagai jawara tangguh silat Beksi.
Suatu
ketika perjalanan pulang setelah acara grup rebananya di daerah Dadap, di
melewati sebuah halaman rumah seseorang pada larut malam, dimana di situ ada
orang yang sedang belajar-mengajar ilmu pencak silat. H. Godjali merasa sangat
tertarik dan mengamati mereka yang sedang belajar. Ketika mengamati aktifitas
itu, teman-temannya dimintanya pulang lebih dahulu.
Sketsa
wajah H. Godjali
(Sketsa
diberikan atas kebaikan hati Iwan Ridwan)
Menurut salah satu keterangan, H. Godjali yang penasaran,
ingin menjajal kemampuan sang guru, yaitu Ki Marhalli sendiri.
H. Godjali yang sudah memiliki jurus silat torogtog dalam satu sumber dan cingkrik dalam
sumber lainnya, mengadakan adu tanding. Tidak dinyana ternyata H. Godjali kalah dalam adu
tanding tersebut. H. Godjali memohon kepada Ki
Marhalli, agar diizinkan menjadi murid Ki Marhalli.
Sebelum diizinkan menjadi
muridnya, Ki Marhalli
meminta kepada H. Godjali,
untuk terlebih dahulu meminta izin orangtuanya, apakah diizinkan atau tidak dan
memberikan sesuatu untuk gurunya berupa biaya mukim. Ketika sampai di rumah, dia memohon kepada ayahnya agar
diizinkan belajar silat kepada Ki Marhalli
di Dadap, Tangerang. Apabila ayahnya tidak memberinya biaya, menurut penuturan,
dia akan menjual kuda pemberian ayahnya, sebagai biaya hidup selama mukim di
tempat gurunya. Sebagai ayah, H. Gatong tidak menyetujui, apabila anaknya
sampai menjual kudanya hanya untuk biaya belajar silat. H. Gatong kemudian
menyetujui anaknya belajar silat ke Dadap,
sekaligus memberi biaya selama di sana.
Salah satu sumber mengatakan bahwa H. Godjali tidak sampai
setahun dalam belajar silat, sedangkan menurut guru besar silat Beksi, engkong
Dasik, mengatakan bahwa H. Godjali belajar silat kepada Ki Marhalli selama 3
tahun. Periode waktunya sekitar dekade tahun 1910-an. Waktu itu telah terjadi
kerusuhan massal anti-Tionghoa di Tangerang.
Setelah pulang dari belajarnya di Dadap, Tangerang, H.
Godjali mencoba permainan maenpukulan bersama
teman-teman sebayanya. Saat itu ada
seorang warga yang sedang membangun
rumah, dimana setiap orang berkumpul ramai dalam satu waktu. Ketika terjadi adu
tanding dengan teman-temannya, H. Godjali dapat menjatuhkan teman-temannya
dalam sekali serangan. Berawal dari peristiwa tersebut, teman-teman sebayanya
serta para jago kampung Petukangan, mulai belajar kepadanya, terutama
tokoh-tokoh yang di kemudian
hari dikenal menjadi
empat murid utamanya.
H. Godjali sendiri selama masa kolonial, adalah seorang
saudagar kaya di seantero Petukangan yang mewarisi
usaha ayahnya. Dia mempunyai usaha pembuatan tahu, mempunyai usaha transportasi
delman, sawah yang luas dan sekarang
keluarganya, mewarisi sarana pendidikan sekolah. Selain itu, H. Godjali juga pernah diangkat menjadi binnenlandsch bestuur sebagai kepala
kampung dari wilayah kampung Petukangan oleh pemerintah kolonial Belanda.
Seringkali dia dikejar-kejar oleh marchause
Belanda karena dicurigai membantu rakyat di sekitar Petukangan, terutama
setelah adanya upaya pemberontakan PKI melawan Belanda di Banten pada tahun
1926-1927. H. Godjali pergi haji sekitar di tahun 1940-an, saat masa-masa genting, sehingga
dia menjadi dari sedikit warga Indonesia yang pergi haji saat suasana
perang akan berlangsung di Indonesia. Pengajaran silat kemudian dilanjutkan
oleh Ki Marhalli kepada
murid-muridnya di Dadap dan di Petukangan. Di
zaman Orde Lama, dia juga pernah diangkat menjadi lurah kembali hingga
tahun 1960.
Eks rumah pribadi H. Godjali (Koleksi pribadi)
H. Godjali memiliki
empat orang istri yang bernama Rahimah,
Fatimah, Saodah dan Mani’. Di antara empat orang istrinya, H. Godjali
dikaruniai 2 orang anak, hanya dari istri yang
bernama Rahimah. Rumah H. Godjali, sekarang berada di selatan jalan raya utama yang menghubungkan Kebayoran Lama dan Ciledug. H. Godjali wafat pada
tahun 1963. Sahabat seperguruan H. Godjali pada masa kolonial, Muhammad Item,
walaupun bersahabat tetapi tidak satu visi dengannya. Muhammad Item menjadi jago di seantero daerah-daerah di
sekitar Petukangan, tetapi tidak pernah mau masuk ke Petukangan. Ada sebuah ungkapan yang masih dipegang saat itu oleh mereka berdua dan saat ini
oleh para murid H. Godjali:
“kalo loe sampe ngacak-ngacak
kampung gue, bakal hari gentian gue acak-acak kampung loe”.
Oleh karena ungkapan itu, kedua sahabat ini saling
menghormati, sekalipun telah berbeda visi dalam menjalani kehidupan di dunia
silat.
Pada masa Pendudukan Jepang, pemerintah Pendudukan Jepang berupaya
memadukan dan menyatukan berbagai aliran
silat di seluruh
Betawi dan di Jawa, untuk
dijadikan standar beladiri para tentara dan sukarelawan Bumiputra yang berdinas di militer. Namun hal itu tidak banyak direspon oleh para jawara, sebab yang menjadi acuan beladiri nasional
di zaman Jepang,
adalah silat Tenabang
aliran Sabeni, sehingga silat Beksi tidak selalu
mendapat tempat. Namun pada masa inilah, justru jurus-jurus dasar silat Beksi
di Petukangan dengan 12 jurus, telah sempurna dikembangkan. Hal itu tidak lepas
dari musyawarah antara dirinya dengan H. Hasbullah, Simin, M. Nur dan Mandor Minggu.
Pada masa kemerdekaan Indonesia, H. Godjali bersama para
murid dan warga Petukangan, hadir
dalam rapat raksasa di lapangan Ikada. Mereka semua mengawal keamanan para pemimpin Republik
Indonesia dan rakyat
Indonesia, yang masih berada di bawah bayang-bayang militer
Jepang. Salah satu pemimpin Republik Indonesia, yang diduga telah bertemu dengannya serta murid-muridnya dalam
persembunyian di sekitar Jakarta untuk konsolidasi, adalah
KH A. Wahid Hasyim. KH A, Wahid
Hasyim saat ibukota diduduki
oleh NICA pada tahun 1946, tetap tinggal
di Jakarta dengan cara
berpindah-pindah tempat, terutama di sekitar Cilandak dan Kebayoran.
Sebagai pribadi yang baik, H. Godjali selalu bersilaturahim
kepada murid- muridnya sekaligus sebagai sahabatnya, terutama ke rumah
muridnya, Simin ibn Syuaib yang menurunkan silat Beksi jalur Simin. Rumah
pribadinya sampai sekarang masih dapat disaksikan, tepat berada pada sebuah
pertigaan jalan di sebelah selatan jalan raya Kebayoran Lama-Ciledug. H.
Godjali wafat pada tahun 1963. Tempat peristirahatannya yang terakhir, berada
di sebelah utara jalan raya, tidak jauh dari pertigaan jalan raya Swadarma.


Komentar
Posting Komentar