Silsilah dan Jalur Sanad Pengajaran 4 Murid Utama Silat Beksi
H. Hasbullah
H. Hasbullah dilahirkan di
Petukangan pada tahun 1863. Ayahnya bernama H Misin, yang masih merupakan
keponakan dengan H. Gatong, sehingga silsilah H.
Hasbullah dengan H. Godjali adalah keponakan dengan paman. Pada saat itu jika umur antara paman dengan keponakan tidak jauh berbeda,
maka biasanya sang paman dipanggil dengan sebutan abang, bukan ncang.
Proses belajarnya H. Hasbullah dalam silat Beksi kepada H.
Godjali tergolong unik, sebab H. Godjali yang saat itu telah menguasai jurus
dasar silat Beksi, hanya mengajaknya bersama teman sepermainannya, untuk
belajar silat Beksi. Saat itu belum ada syarat apapun dari guru kepada
muridnya, tetapi dapat berakar kuat jalinan batinnya. H. Hasbullah sendiri
telah mempunyai ilmu silat kotek sebelum
belajar silat Beksi dari H. Godjali.
Sketsa wajah H. Hasbullah
(Sketsa
diberikan atas kebaikan hati Iwan Ridwan)
Kecerdasan serta ketekunan dari H. Hasbullah sendiri, telah
mengantarkannya kepada pelajarannya langsung di bawah pengawasan Lie Tjeng Hok.
Sebuah sumber mengatakan bahwa setelah selesai belajar kepada H. Godjali, H.
Hasbullah diminta dan diantarkan langsung oleh H. Godjali kepada Lie Tjeng Hok,
untuk belajar langsung kepadanya. H. Hasbullah muda menjadi emban Lie Tjeng Hok sebagai gurunya
langsung, selama 2 atau 3 tahun. H. Hasbullah sering diajak bepergian dan mengembara oleh Lie Tjeng Hok ke berbagai wilayah di Banten, Batavia dan
Bogor. Tidak jarang H. Hasbullah belajar ilmu
silat tambahan dalam pengembaraannya bersama Lie Tjeng Hok.
Ilmu silat yang didapatkannya memang tidak pernah dijadikan jurus tersendiri,
tetapi hanya sebagai variasi saja.
Memang tidak ada sumber lain yang menguatkan hal itu atau visual gerakan silat, untuk memastikan hal
tersebut, hanya menurut muridnya langsung yang
kini menjadi Guru Besar silat Beksi, Dasik Aripin, H. Hasbullah memang
menjadi emban langsung Lie Tjeng Hok
dan diajak mengembara di seantero Banten, Batavia dan Bogor. Menurut putranya,
M. Sholeh, itulah mengapa gerakan silat Beksi jalur H. Hasbullah sangat unik
dari murid-murid H. Godjali yang lain, gerakannya lebih luwes dan bervariasi, tetapi
tetap dalam koridor
silat Beksi dasar. Di
samping karena perawakan
fisiknya yang tidak terlalu besar,
hasil pengembaran dan
belajarnya H. Hasbullah pada Lie Tjeng Hok langsung, menjadikan gerakan silat
Beksinya lebih kepada seni tari seperti yang
terlihat saat ini.
Bersama H. Godjali dan sahabat-sahabat seperguruannya, M.
Nur, Simin dan Mandor Minggu, H. Hasbullah mengembangkan 8 jurus tambahan dalam
silat Beksi, sehingga menjadi 12 jurus dasar. Mereka semua menyetujui insiatif
dan inovasi terhadap penyempurnaan silat Beksi dari H. Hasbullah. Menurut
sebuah sumber, itu terjadi pada tahun 1942, ketika Jepang meminta para jawara Bumiputra
untuk menstandarkan gerakan beladiri silat bagi dinas militer.
Pada saat proklamasi kemerdekaan, H. Hasbullah bersama
sahabat- sahabatnya diminta oleh gurunya, untuk ikut mengamankan rapat raksasa
di lapangan Ikada pada tahun 1945. Saat Jakarta diduduki oleh tentara NICA pada
tahun 1946, H. Hasbullah bersama ketiga sahabatnya, pergi ke garis demarkasi
untuk ikut mengamankan daerah milik Republik Indonesia di Bekasi dan Karawang.
Tidak diketahui apakah dia bersama H. Darip dari Klender ikut bergabung menjadi
satu kelompok atau tidak, namun satu sumber menyebutkan bahwa H. Hasbullah, M.
Nur dan Simin, ikut bersama dalam dinas pengamanan militer di bawah komando
komandan TKR Jakarta Raya-Karawang, Mayor Moefreni Moe’min di sekitar
Karawang-Bekasi. Oleh karena perannya ini, H. Hasbullah dan para sahabatnya,
sering dicari oleh tentara NICA ketika diketahui sedang pulang ke Petukangan.
Setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia pada tahun
1949, H. Hasbullah, tetap mengembangkan dan mengajarkan silat Beksi di
sekitaran Tangerang-Karawang-Bekasi, terutama di daerah Batujaya, Karawang dan
Babelan, Bekasi. Hingga pertengahan tahun 1950-an mereka masih sering melakoni
pengajaran silat dan dakwah di seputaran Tangerang, Bekasi dan Karawang bagian
utara.
H. Hasbullah diketahui menjadi sahabat dari Habib Ali
Kwitang, karena beberapa kali Habib Ali Kwitang pernah hadir dan memberi
tausiyah di Ulujami.
H.
Hasbullah sendiri pernah diangkat menjadi lurah Petukangan pada tahun 1960-
1962. Pada saat terjadi peristiwa 1965, H. Hasbullah bersama sahabatnya dan warga sekitar Petukangan, ikut menjaga
keamaan daerah Jakarta, dari orang-orang yang
dicurigai sebagai anggota PKI. Namun mereka semua tidak sampai kepada
upaya penghilangan nyawa dan fisik, orang-orang yang dicurigai sebagai anggota
PKI.
H. Hasbullah secara pribadi merupakan tokoh yang santun dan
sederhana Dia dikenal sebagai guru ngaji,
imam sholat serta khatib saat Jum’atan di masjid al-Falah, Petukangan, dan dia
juga dikenal sebagai ahli agama yang menjadi rujukan bagi warga di seputaran
Petukangan. Sehingga warga Petukangan dan sekitarnya, lebih mengenal H. Hasbullah dengan
predikat ulama, ketimbang
jawara silat Beksi Petukangan.
Bahkan saat dia menjadi salah satu aktor yang
menjadi kakek guru silat dari Rhoma Irama dalam sebuah film layar lebar, warga Jakarta tetap lebih
mengenalnya sebagai ulama. Hal itu terjadi pada medio tahun 1970-an, saat H.
Hasbullah ikut menjadi aktor.
H. Hasbullah diketahui memiliki 3 orang istri, tetapi yang diingat
oleh anak- anaknya, hanya dua
saja, karena istri yang terakhir
dinikahi, hanya berjarak beberapa bulan sebelum
wafatnya. Adapun nama-nama
istrinya yang dikenal yaitu: Fatimah dan Sa’nah. H. Hasbullah dianugerahi 11 orang anak dari istri
Fatimah, sedangkan dari istri Sa’nah, dianugerahi 11 orang anak juga. Anak-anak
H. Hasbullah, dapat dilihat
dalam lampiran di belakang. Di antara anak yang mewarisi ilmu silat Beksi saat ini, hanya tinggal putranya
yang bernama M. Sholeh
saja, yang mengajar silat Beksi jalur H. Hasbullah. M. Sholeh menjadi
narasumber utama dalam tulisan ini.
Di antara cerita silat Beksi mengenainya, adalah adu
tangkas dengan Said Jawaz, seorang warga keturunan Arab dari Tanah Abang, yang
mempunyai jurus silat Tenabang. Menurut cerita, dia datang menantang tanding H.
Hasbullah, tetapi kemudian kalah
tanding dan menyatakan diri menjadi murid H. Hasbullah. Said Jawaz lalu ikut mengembangkan silat Beksi di
sekitar Kebayoran Lama hingga Palmerah. Muridnya yang lain yang kini
telah menjadi Guru Besar silat Beksi, Dasik Aripin. Dia pernah dimarahi H.
Hasbullah karena berani mengajarkan silat Beksi di luar Petukangan tanpa
sepengetahuannya. Dia bersikap seperti itu karena
sayangnya pada muridnya ini, sebab dia khawatir, muridnya ini akan dijajal
kemampuannya oleh jawara yang berada
di tempat lain dan mengalami
kekalahan, dikarenakan belum sempurnanya ilmu yang dimiliki oleh Dasik Aripin. Namun ternyata kekhawatiran H.
Hasbullah sirna, karena kegigihan belajar kembali muridnya serta pengawasan
langsung H. Hasbullah kepadanya dalam pelajaran ilmu silat Beksi. Petuah utama
H. Hasbullah kepada para muridnya :
“Jurus saya kasih, Ilmu cari sendiri”, dalam arti, jurus silat Beksi sudah jelas
gerakannya, tetapi dalam kehidupan, para murid (pesilat Beksi) yang harus bisa
menjalaninya dengan baik.
H. Hasbullah wafat pada tanggal 14 November 1989. Makamnya
berada agak ke selatan dari jalan raya Kebayoran-Ciledug, di belakang sebuah
sekolah menengah atas. Oleh warga Petukangan dan terutama oleh para murid serta
keluarga besar silat Beksi, haulnya diperingati setiap tahun mengikuti tanggal
dan bulan wafatnya di tahun Hijriyyah.

Komentar
Posting Komentar