Langsung ke konten utama

Silsilah dan Jalur Sanad Pengajaran 4 Murid Utama Silat Beksi

Silsilah dan Jalur Sanad Pengajaran 4 Murid Utama Silat Beksi

 M. Nur
Nama M. Nur dalam silsilah ilmu silat Beksi, merupakan salah satu jalur guru dalam mempelajari silat Beksi. M. Nur sendiri dalam silsilah ilmu silat Beksi, merupakan murid langsung dari H. Godjali, Ki Marhalli dan kemudian Ki Mursalim. Menurut penuturan salah satu sumber, M. Nur saja yang sanad keilmuannya, langsung sampai kepada eyang guru awal silat Beksi, yaitu ki Mursalim. M. Nur belajar dan di bawah bimbingan langsung dari Ki Mursalim selama proses belajar silat Beksi dan darinyalah, terdapat jurus lain yang sangat berbeda dari para murid H. Godjali lainnya.

 Sketsa wajah M. Nur
(Sketsa diberikan atas kebaikan hati Iwan Ridwan)

 M. Nur dilahirkan pada tahun 1901 dan wafat pada tanggal 12 Mei 1993, serta merupakan adik dari Simin. Sebelum menjadi pesilat tangguh Beksi, M. Nur dididik agama secara disiplin oleh kedua orangtuanya, sehingga di kemudian hari,

M. Nur dikenal sebagai jawara silat Beksi yang religius. M. Nur mempunyai 6 orang istri dan dikaruniai 7 orang anak. Kedua anaknya menjadi narasumber dalam tulisan ini,  yaitu: Hj. Masnah dan Dahlia. M. Nur sendiri sebagaimana kakaknya, mempunyai perawakan yang tinggi besar dan fisik dan tegap. Keluarga adik-kakak M. Nur, yaitu Simin, Ak, Ganus, Gamung, Mamak Benok dan Nasoh.


M. Nur adalah pribadi yang sangat menyayangi keluarganya, hingga seringkali dia sendiri yang menimbakan air dari sumur ke kamar mandi setiap pagi dan sore hari. Salah satu istrinya yang berjualan dan tidak berada satu tempat tinggal dengannya di Cipulir, sering dikunjungi dan diberikan haknya. Istri-istrinya yang lain, berada berdekatan satu sama lainnya. Ada beberapa istrinya yang bekerja sebagai buruh nembok di Kebayoran Lama. Pada pagi hari dan siang harinya, mereka sudah pulang kembali ke rumah. Saat hari Besar Islam, semua keluarga berkumpul di rumah induk, untuk bersilaturahmi dan bercengkerama. M. Nur juga merupakan pribadi yang supel dan ramah kepada warga sekitar Petukangan. Tutur katanya halus dan tidak pernah marah, sehingga orang yang bertemu dengan M. Nur, lebih hormat kepadanya karena halusnya tutur kata yang diucapkan, daripada memandangnya sebagai jawara silat Beksi.

Setelah kakaknya berhasil mengalahkan para centeng di Pasar Ikan, Batavia, nama keluarga Simin dan M. Nur menjadi terkenal. Oleh karena itu dia dihormati di Pasar Ikan, sehingga pada saat muda hingga mempunyai seorang anak, dia diketahui pernah menjadi pedagang ikan laut di sekitaran Petukangan dan di Kebayoran Lama dengan cara dipikul. Dia kadang-kadang berhari-hari pergi dari Petukangan, karena menunggu kapal-kapal nelayan ikan yang bersandar di Batavia. Setelah kapal merapat, barulah dia segera kembali ke Petukangan dan Kebayoran Lama untuk berjualan ikan.

Saat sedang tidak berjualan ikan, M. Nur mengusahakan hasil kebun dan itu terus dilakukan, setelah dia tidak lagi menjadi pedagang ikan. M. Nur juga sempat menjadi salah satu aktor dalam program acara di stasiun TVRI pada tahun 1980- 1990. Dia pun selalu berpenampilan rapi dengan selalu memakai perangkat pakaian secara sempurna, baik saat di rumah ataupun saat berpergian.

M. Nur dapat dikatakan sebagai generasi muda Petukangan awal, yang belajar silat Beksi pada H. Godjali. Dia sepermainan dan secara umur, seusia dengan Mandor Minggu, ketimbang dari H. Hasbullah dan Simin, yang usianya jauh di atasnya. Namun secara derajat, M. Nur sama seperti murid-murid H. Godjali lainnya, karena masa belajarnya sezaman dengan mereka. Salah satu kawan terdekatnya, adalah H. Hasbullah, yang sering menyempatkan diri silaturahmi di kediamannya. Seringkali anak-anaknya diberi uang oleh H. Hasbullah jika bertemu di jalan atau saat silaturahmi.

Proses pembelajaran silat Beksi M. Nur begitu unik, sejak belajar pada H. Godjali, kemudian pada Ki Marhalli, berhasil mengantarkannya kepada eyang guru silat Beksi yang bernama Ki Mursalim. Seorang tokoh misterius yang tidak ada cerita lain selain dari jalur M. Nur. Tokoh ini diceritakan tinggal di sebelah barat kanal kota Batavia lama, tetapi mengadakan pengajaran pada M. Nur secara pribadi di Dadap. Menurut penuturan, itu terjadi pada tahun 1928 hingga tahun 1931, saat M. Nur muda menjadi emban pribadi Ki Mursalim.

Perawakan yang tegap dan besar, membuat gerakan silatnya terasa penuh kekuatan tetapi sedikit melambat, namun ketepatan gerakan tetap diutamakan. Silat jalur Beksi jalur M. Nur boleh dikatakan sebagai gerakan yang mematikan atau dengan kata lain, offence under defense, sebab dalam prinsipnya (dalam redaksi narasumber) :

lemah belum tentu kalah dari yang kuat” dan “menerima apapun yang kita terima, untuk dikembalikan kepada lawan”,


Pada prakteknya, melemahkan gerakan diri bukan berarti bentuk kekalahan, tetapi sebagai bentuk keluawesan agar ketepatan penyerangan kepada lawan dapat dilakukan secara maksimal.

Pada masa pendudukan Jepang, M. Nur bersama kakaknya, Simin dan H. Hasbullah ikut menyepakati pembentukan 8 jurus tambahan, dari 4 jurus dasar silat Beksi menjadi 12 jurus dasar. Tidak diketahui apakah M. Nur menjadi pasukan PETA seperti kakaknya atau tidak, tetapi pada 19 September 1945, dia bersama para sahabatnya, diminta oleh H. Godjali hadir dan mengamankan kondisi rapat raksasa di lapangan Ikada. Sebelum peristiwa berdarah terjadi di Lengkong, Serpong Timur, pasukan Jepang pimpinan Kapten Abe yang bertugas menjaga gudang senjata, sering melakukan penjarahan ke rumah-rumah warga. M. Nur dan Mandor Minggu, menolak kedatangan tentara Jepang yang sudah kalah perang di kampung Petukangan. Beberapa orang tentara asli Jepang dikabarkan tewas karena perlawanan warga Petukangan, karena itu mereka yang melawan dikejar-kejar, termasuk M. Nur dan sahabatnya, Mandor Minggu. Pada peristiwa Lengkong pada 25 Januari 1946, ratusan rakyat dari sekitar Tangerang dan Jakarta Selatan dan para pemuda yang sebelumnya dididik dalam PETA, berusaha meminta persenjataan dari Jepang, tetapi kemudian terjadi peristiwa berdarah.


Ketika ibukota diduduki oleh NICA pada akhir Januari 1946 dan mulai ada garis demarkasi, M. Nur, Simin, H. Hasbullah dan Mandor Minggu, bergerak menuju garis demarkasi Indonesia di Bekasi dan Karawang. Mereka semua membantu para pejuang di garis milik Republik Indonesia. Ketika berada di sana, mereka ikut juga menyebarkan ilmu silat Beksi untuk media pertahanan para pejuang, dari anak-anak sampai orang dewasa. Kadang kala, mereka ikut mengawal patroli TKR di sekitar Karawang-Bekasi, karena kakak M. Nur, menjadi anggota TKR selama masa perjuangan Revolusi Fisik. Akibat kondisi itulah, nama M. Nur sering menjadi salah satu incaran dari NICA di Petukangan. Hal itu terjadi karena sebagai menantu keponakan dari oppas Kebayoran (dari istrinya yang pertama) sejak zaman kolonial, M. Nur seharusnya membantu NICA, tetapi semua keluarga sepakat, bahwa membantu Indonesia adalah keputusan yang tepat, sekalipun paman dari pihak istrinya itu kehilangan jabatan. Begitu juga M. Nur, tidak mau membantu NICA menguasai Jakarta dengan mudah.

Peristiwa heroik yang terjadi di Kebayoran mengejutkan pasukan NICA, seorang pemuda yang merupakan teman sepermainan M. Nur bernama M. Saidi tewas, ketika dia bersama warga Petukangan lainnya, menghadang dan menghancurkan sebuah konvoi pasukan Belanda yang akan berpatroli ke Ciledug. Peristiwa tersebut dikenang oleh warga Petukangan, dengan mengabadikan namanya menjadi nama sebuah jalan.

Ketika keadulatan Indonesia diakui pada tahun 1949, M. Nur bersama kakaknya, Simin dan H. Hasbullah masih sering mengajar di sekitaran Bekasi dan Karawang. Ketika memasuki dekade tahun 1960-an, M. Nur lebih banyak mengajar ke daerah Tangerang dan Jakarta bagian barat karena faktor jarak yang cukup jauh. Di Petukangan sendiri, dia sering berdiskusi soal keamanan dengan Mandor Husain. M. Nur juga seringkali mengajar di luar daerah sekitar Petukangan, untuk meluaskan silat Beksi.

Sebagai jawara silat, M. Nur juga sebagai jama’ah tarekat dari Qadiriyyah dan Sammaniyyah, dimana hampir sebagian besar dari pesilat memang memasuki dunia tasawwuf sebagai pendalaman spiritual. Para muridnya walaupun tidak secara langsung diminta mengikuti ajaran tasawwuf dalam tarekat, menurut narasumber, terkadang para murid diberikan amalan-amalan dalam tarekat jika dimohon dari para muridnya. Semua murid sebelum belajar silat, dimintanya untuk mengaji terlebih dahulu dan mengirim doa sebagai tawasulan kepada Rasulullah dan guru-guru awal dari silat Beksi. Menurut M. Nur, dalam redaksi melalui narasumber, pernah menyatakan bahwa :

jurus-jurus silat adalah pengejawantahan akal, yang dituangkan dalam praktek laku kehidupan dan fisik seorang pesilat”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peta Petukangan

Peta Petukangan berada di bawah administrasi distrik Kebayoran tahun 1940. Beberapa tanda situs makam dan masjid dapat diidentifikasikan lokasinya. (Reyhan Biadilla, 280119)

Silsilah dan Jalur Sanad Pengajaran 4 Murid Utama Silat Beksi

Silsilah dan Jalur Sanad Pengajaran 4 Murid Utama Silat Beksi H. Hasbullah H. Hasbullah dilahirkan di Petukangan pada tahun 1863. Ayahnya bernama H Misin, yang masih merupakan keponakan dengan H. Gatong, sehingga silsilah H. Hasbullah dengan H. Godjali adalah keponakan dengan paman. Pada saat itu jika umur antara paman dengan keponakan tidak jauh berbeda, maka biasanya sang paman dipanggil dengan sebutan abang , bukan ncang . Proses belajarnya H. Hasbullah dalam silat Beksi kepada H. Godjali tergolong unik, sebab H. Godjali yang saat itu telah menguasai jurus dasar silat Beksi, hanya mengajaknya bersama teman sepermainannya, untuk belajar silat Beksi. Saat itu belum ada syarat apapun dari guru kepada muridnya, tetapi dapat berakar kuat jalinan batinnya. H. Hasbullah sendiri telah mempunyai ilmu silat kotek sebelum belajar silat Beksi dari H. Godjali.   Sketsa wajah H. Hasbullah (Sketsa diberikan atas kebaikan hati Iwan Ridwan) Kecerd...

Kong Simin

Simin Murid H. Godjali lainnya dalam silsilah ilmu silat Beksi, adalah  engkong Simin  (selanjutnya  hanya  disebut  namanya  saja  untuk  mempersingkat  tulisan). Dilahirkan pada tahun 1881 dan wafat pada tanggal 22 Oktober 1992. Simin sendiri adalah  kakak  dari  M.  Nur,  jawara  lain  dalam  silsilah  ilmu  silat  Beksi  di Petukangan. Ayah Simin bernama Syua’ib,  atau warga lama Petukangan menyebutnya dengan sebuat  Aip. Dia adalah pedagang ikan di pasar Kebayoran dan seputaran Petukangan. Suatu ketika saat bertransaksi jual-beli ikan di Pasar Ikan (vish markt), Batavia Lama, Syu’aib dipukuli oleh para centeng  Pasar Ikan karena suatu masalah. Simin yang waktu itu masih kecil dan mendampingi ayahnya bertransaksi jual-beli ikan, hanya dapat  melihat dan menangis karena tidak dapat menolong ayahnya. Bermula  dari  peristiwa  tersebut,...