H. Godjalih
H. Godjali, menurut penuturan lisan, dilahirkan sekitar tahun 1859-1860. H. Godjali sendiri adalah paman dari H. Hasbullah. Ayah H. Godjali, H. Gatong, adalah seorang Bumiputra tuan tanah dan saudagar kaya terkenal di seantero Petukangan. Ibu dari H. Godjali, adalah wanita peranakan Tionghoa bernama Nyi An Ie Ong, tetapi penduduk sekitar menyebutnya Nyi Anyong, karena sulitnya mengucapkan dalam ejaan Mandarin. H. Godjali merupakan anak satu-satunya dari H. Gatong yang berkeinginan kuat belajar silat, sehingga dia diberikan segala apa yang dimiliki oleh ayahnya, tetapi secara disiplin dan teratur.
H. Godjali sebelum dikenal sebagai ahli silat, adalah pemusik handal, yaitu sebagai salah satu dari empat personel grup rebana dari kampung Petukangan. Keahlian dan ketenaran grupnya, menjadikannya sering dipanggil ke berbagai daerah di luar Petukangan. Melalui keahliannya ini, dia sampai ke daerah Dadap, Tangerang, dimana dia mendapatkan keahliannya sebagai jawara tangguh silat Beksi.
Suatu ketika perjalanan pulang setelah acara grup rebananya di daerah Dadap, di melewati sebuah halaman rumah pada larut malam, dimana di situ ada orang yang sedang belajar-mengajar ilmu pencak silat. H. Godjali merasa sangat tertarik dan mengamati mereka yang sedang belajar. Ketika itu teman-temannya dimintanya pulang lebih dahulu.
Sketsa wajah H. Godjali
(Sketsa diberikan atas kebaikan hati Iwan Ridwan/Ireng Halimun)
Menurut salah satu keterangan, H. Godjali yang penasaran, ingin menjajal kemampuan sang guru, yaitu Ki Marhalli sendiri. H. Godjali yang sudah memiliki jurus silat torogtog dalam satu sumber dan cingkrik dalam sumber lainnya, mengadakan adu tanding. Tidak dinyana ternyata H. Godjali kalah dalam adu tanding tersebut. H. Godjali memohon kepada Ki Marhalli, agar diizinkan menjadi murid Ki Marhalli.
Sebelum diizinkan menjadi muridnya, Ki Marhalli meminta kepada H. Godjali, untuk terlebih dahulu meminta izin orangtuanya, apakah diizinkan atau tidak dan memberikan sesuatu untuk gurunya berupa biaya mukim. Ketika sampai di rumah, dia memohon kepada ayahnya agar diizinkan belajar silat kepada Ki Marhalli di Dadap, Tangerang. Apabila ayahnya tidak memberinya biaya, menurut penuturan, dia akan menjual kuda pemberian ayahnya, sebagai biaya hidup selama mukim di tempat gurunya. Sebagai anak tunggal, H. Gatong tidak menyetujui apabila anaknya sampai menjual kudanya hanya untuk biaya belajar silat. H. Gatong kemudian menyetujui anaknya belajar silat ke Dadap, sekaligus memberi biaya selama di sana.
Salah satu sumber mengatakan bahwa H. Godjali tidak sampai setahun dalam belajar silat, sedangkan menurut guru besar silat Beksi, engkong Dasik, mengatakan bahwa H. Godjali belajar silat kepada Ki Marhalli selama 3 tahun. Periode waktunya sekitar dekade tahun 1910-an. Waktu itu telah terjadi kerusuhan massal anti-Tionghoa di Tangerang.
Setelah pulang dari belajarnya di Dadap, Tangerang, H. Godjali mencoba permainan maenpukulan bersama teman-teman sebayanya. Saat itu ada seorang warga yang sedang membangun rumah, dimana setiap orang berkumpul ramai dalam satu waktu. Ketika terjadi adu tanding dengan teman-temannya, H. Godjali dapat menjatuhkan teman-temannya dalam sekali seranga n. Berawal dari peristiwa tersebut, teman-teman sebayanya serta para jago kampung Petukangan, mulai belajar kepadanya, terutama tokoh-tokoh yang di kemudian hari dikenal menjadi empat murid utamanya.
H. Godjali sendiri selama masa kolonial, adalah seorang saudagar kaya di seantero Petukangan yang mewarisi usaha ayahnya. Dia mempunyai usaha pembuatan tahu, mempunyai usaha transportasi delman, sawah yang luas dan sekarang keluarganya, mewarisi sarana pendidikan sekolah. Selain itu, H. Godjali juga pernah diangkat menjadi binnenlandsch bestuur sebagai lurah dari wilayah Petukangan oleh pemerintah kolonial Belanda. Seringkali dia dikejar-kejar oleh marchause Belanda karena dicurigai membantu rakyat di sekitar Petukangan, terutama setelah adanya upaya pemberontakan PKI melawan Belanda di Banten pada tahu n 1926-1927. H. Godjali pergi haji sekitar di tahun 1940-an, saat masa-masa genting, sehingga dia menjadi dari sedikit warga Indonesia yang pergi haji saat suasana perang akan berlangsung di Indonesia. Pengajaran silat kemudian dilanjutkan oleh Ki Marhalli kepada murid-muridnya di Dadap dan di Petukangan. Di zaman Orde Lama, dia juga pernah diangkat menjadi lurah kembali hingga tahun 1960.
H. Godjali memiliki empat orang istri yang bernama Rahimah, Fatimah, Saodah dan Mani’. Di antara empat orang istrinya, H. Godjali dikaruniai 2 orang anak, hanya dari istri yang bernama Rahimah. Rumah H. Godjali, sekarang berada di selatan jalan raya utama yang menghubungkan Kebayoran Lama dan Ciledug. H. Godjali wafat pada tahun 1963. Sahabat seperguruan H. Godjali pada masa kolonial, Muhammad Item, walaupun bersahabat tetapi tidak satu visi dengannya. Muhammad Item menjadi jago di seantero daerah-daerah di sekitar Petukangan, tetapi tidak pernah mau masuk ke Petukangan. Ada sebuah ungkapan yang masih dipegang saat itu oleh mereka berdua dan saat ini oleh para murid H. Godjali : “kalo loe sampe ngacak-ngacak kampung gue, bakal hari gentian gue acak-acak kampung loe”.
Oleh karena ungkapan itu, kedua sahabat ini saling menghormati, sekalipun telah berbeda visi dalam menjalani kehidupan di dunia silat.
Pada masa Pendudukan Jepang, pemerintah Pendudukan Jepang berupaya memadukan dan menyatukan berbagai aliran silat di seluruh Betawi dan di Jawa, untuk dijadikan standar beladiri para tentara dan sukarelawan Bumiputra yang berdinas di militer. Namun hal itu tidak banyak direspon oleh para jawara, sebab yang menjadi acuan beladiri nasional di zaman Jepang, adalah silat Tenabang aliran Sabeni, sehingga silat Beksi tidak selalu mendapat tempat. Namun pada masa inilah, justru jurus -jurus dasar silat Beksi di Petukangan dengan 12 jurus, telah sempurna dikembangkan. Hal itu tidak lepas dari musyawarah antara dirinya dengan H. Hasbullah , Simin, M. Nur dan Mandor Minggu.
Pada masa kemerdekaan Indonesia, H. Godjali bersama para murid dan warga Petukangan, hadir dalam rapat raksasa di lapangan Ikada. Mereka semua mengawal keamanan para pemimpin Republik Indonesia dan rakyat Indonesia, yang masih berada di bawah bayang-bayang militer Jepang. Salah satu pemimpin Republik Indonesia, yang diduga telah bertemu dengannya serta murid-muridnya dalam persembunyian di sekitar Jakarta untuk konsolidasi, adalah KH A. Wahid Hasyim. KH A, Wahid Hasyim saat ibukota diduduki oleh NICA pada tahun 1946, tetap tinggal di Jakarta dengan cara berpindah-pindah tempat, terutama di sekitar Cilandak dan Kebayoran.
Sebagai pribadi yang baik, H. Godjali selalu bersilaturahim kepada muridmuridnya sekaligus sebagai sahabatnya, terutama ke rumah muridnya, Simin ibn Syuaib yang menurunkan silat Beksi jalur Simin. Rumah pribadinya sampai sekarang masih dapat disaksikan, tepat berada pada sebuah pertigaan jalan di sebelah selatan jalan raya Kebayoran Lama-Ciledug. H. Godjali wafat pada tahun 1963. Tempat peristirahatannya yang terakhir, berada di sebelah utara jalan raya, tidak jauh dari pertigaan jalan raya Swadarma.

Komentar
Posting Komentar