Langsung ke konten utama

CATATAN SEJARAH/BUDAYA

CATATAN SEJARAH/BUDAYA

  
Seperti tiada hentinya Pemprov DKI Jakarta dalam membina insan seni budaya. Melalui Sudin Parbud Kota Adm Jakarta pada Selasa, 12 Februari 2019 telah menyelenggarakan kegiatan Pembinaan 200 Seniman Dari 70 Sanggar Seni Budaya Jakarta Selatan, di Hotel Kaisar, Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan.

Turut hadir Sri Yuliani, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Jaksel, Rofiqah, Plt. Kasudin Parbud Jaksel dan sekaligus membuka kegiatan secara resmi dengan pemukulan gong.

Selain itu, Budi Sobar, Praktisi Seni yang bertindak sebagai moderator, Diantri Lapian, Praktisi Oke Oce, Rina, Dosen YAI dan para seniman serta pimpinan sanggar Se - Jaksel.

Disela kegiatan tersebut, Yuyu, Sudin Parbud Jaksel selaku penyelenggara mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan agar setiap sanggar seni dalam melaksanakan kegiatan harus memperkuat keorganisasiannya, seperti struktur organisasi dan kegiatannya pun harus tertib administrasi.

"Misalnya saja, mulai dari kop surat hingga perijinan birokrasi pada wilayah termaksud," jelasnya.

Dikesempatan yang sama Rina, Dosen YAI, mengatakan bahwa pelaku seni/sanggar seni harus punya branding/merk. Harus mempunyai khas produk seni yang spesifik.

Sementara itu, Diantri Lapian menegaskan bahwa pelaku kesenian atau owner sanggar seni budaya hendaknya melek terhadap multimedia dalam pengembangan/melestarikan kebudayaan. Agar kebudayaan tsb bisa meluas ke seantero plesok dunia via fasilitas era Digital.

"Maka dari itu untuk langkah awal hendaknya para pelaku segera mendaftarkan sanggarnya ke Oke Oce disetiap wilayah, agar dapat mengembangkan produknya," tegasnya.

Budi Sobar, selaku moderator menambahkan bahwa seorang pelaku seni harus senatiasa menjaga etika pribadi dalam berkesenian. Karena hal tersebut akan memberi sesuatu yang kuat pada karya prestasinya. (jang/ziz/parbudjs)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peta Petukangan

Peta Petukangan berada di bawah administrasi distrik Kebayoran tahun 1940. Beberapa tanda situs makam dan masjid dapat diidentifikasikan lokasinya. (Reyhan Biadilla, 280119)

Silsilah dan Jalur Sanad Pengajaran 4 Murid Utama Silat Beksi

Silsilah dan Jalur Sanad Pengajaran 4 Murid Utama Silat Beksi H. Hasbullah H. Hasbullah dilahirkan di Petukangan pada tahun 1863. Ayahnya bernama H Misin, yang masih merupakan keponakan dengan H. Gatong, sehingga silsilah H. Hasbullah dengan H. Godjali adalah keponakan dengan paman. Pada saat itu jika umur antara paman dengan keponakan tidak jauh berbeda, maka biasanya sang paman dipanggil dengan sebutan abang , bukan ncang . Proses belajarnya H. Hasbullah dalam silat Beksi kepada H. Godjali tergolong unik, sebab H. Godjali yang saat itu telah menguasai jurus dasar silat Beksi, hanya mengajaknya bersama teman sepermainannya, untuk belajar silat Beksi. Saat itu belum ada syarat apapun dari guru kepada muridnya, tetapi dapat berakar kuat jalinan batinnya. H. Hasbullah sendiri telah mempunyai ilmu silat kotek sebelum belajar silat Beksi dari H. Godjali.   Sketsa wajah H. Hasbullah (Sketsa diberikan atas kebaikan hati Iwan Ridwan) Kecerd...

Kong Simin

Simin Murid H. Godjali lainnya dalam silsilah ilmu silat Beksi, adalah  engkong Simin  (selanjutnya  hanya  disebut  namanya  saja  untuk  mempersingkat  tulisan). Dilahirkan pada tahun 1881 dan wafat pada tanggal 22 Oktober 1992. Simin sendiri adalah  kakak  dari  M.  Nur,  jawara  lain  dalam  silsilah  ilmu  silat  Beksi  di Petukangan. Ayah Simin bernama Syua’ib,  atau warga lama Petukangan menyebutnya dengan sebuat  Aip. Dia adalah pedagang ikan di pasar Kebayoran dan seputaran Petukangan. Suatu ketika saat bertransaksi jual-beli ikan di Pasar Ikan (vish markt), Batavia Lama, Syu’aib dipukuli oleh para centeng  Pasar Ikan karena suatu masalah. Simin yang waktu itu masih kecil dan mendampingi ayahnya bertransaksi jual-beli ikan, hanya dapat  melihat dan menangis karena tidak dapat menolong ayahnya. Bermula  dari  peristiwa  tersebut,...