Langsung ke konten utama

Jurus-jurus Pengembangan

      Jurus-jurus Pengembangan

Jurus-jurus pengembangan silat Beksi khas Petukangan, terdiri dari 8 jurus, dengan pembagian 4 jurus-jurus dengan istilah-istilah tertentu. Empat jurus silat Beksi bagian awal, yaitu: Broneng, Ganden, Bandut dan Petir. Empat jurus ini kemudian disebut, empat jurus tengah, dalam silat Beksi Sedangkan empat jurus lanjutan silat Beksi bagian akhir, yaitu: Tingkes, Beksi I, Silem dan Bolang-Baling. Empat jurus belakangan, disebut jurus akhir dalam silat Beksi. Penjelasan istilah jurus-jurus silat Beksi ini merujuk pada 12 jurus dasar saja, tidak menyebutkan pengembangan jurus oleh guru-guru yang lain.
Beberapa istilah dalam jurus silat Beksi dari jalur guru-guru lainnya, mempunyai istilah yang berbeda, tetapi secara prinsip gerakan dasarnya sama. Beberapa guru dalam silsilah kelimuan silat Beksi, ada yang tidak berurutan menempatkan jurus-jurus seperti di atas. Kadang-kadang seorang guru mengajarkan dan menempatkan 8 jurus pengembangan dalam proses pembelajaran, saling melompati dan tidak berurutan, tergantung kemampuan dan cermatnya guru melihat potensi murid. Sehingga sering ditemukan, perbedaan urutan dari satu guru ke guru lainnya, tetapi secara prinsip, hal tersebut tidak melenceng dari pakem (baku tahapan awal) dalam belajar 12 jurus dasar silat Beksi.
Istilah-istilah dalam jurus pengembangan silat Beksi ini, memang agak sulit diterjemahkan dalam redaksi yang mudah dimengerti secara sekilas, sebab istilah-istilah dalam bahasa silat Betawi tersebut, merupakan rangkaian gerakan yang tidak dapat dipisahkan dan dijelaskan secara terpotong-potong. Harus diingat, bahwa untuk menterjemahkan maksud sebuah gerakan jurus silat Beksi dalam sebuah redaksi tulisan, seseorang memang harus mencoba melakukan sparring partner kepada ahlinya. Meskipun telah melakukan hal tersebut, penjelasan singkat dalam redaksi tulisan ini, tetap tidak dapat mewakili pemahaman seutuhnya mengenai gerakan jurus-jurus yang ada, kecuali memang harus belajar sendiri sepenuhnya secara tuntas.
Salah satu jalur guru, seperti M. Nur dan Simin, sangat pantang menggunakan kaki di atas dalam permainan silat dan begitu juga kepada lawan, sangat pantang apabila kaki lawan sampai digunakan untuk menyerang bagian atas pesilat Beksi. Sehingga menurut narasumber, bagian-bagian tubuh yang ada, selayaknya digunakan sebagaimana fungsinya, dan bagian kaki tidak boleh digunakan untuk menyerang kepala atau sampai naik ke atas melebihi batasnya. Kecepatan dan ketepatan gerakan adalah kunci dasar dalam pergerakan jurus-jurus silat Beksi.
Adapun penjelasan maksud gerakan jurus-jurus pengembangan tambahan dalam silat Beksi, yaitu :

a.       Broneng: Sebuah teknik gerakan untuk membongkar kuncian lawan. Biasanya teknik gerakan ini dipakai, ketika terjadi bekapan tangan yang dilakukan lawan dari belakang. Teknik ini dilakukan dengan kedua tangan pesilat terlipat, sebelum membuka bekapan tangan lawan ke arah kanan atau kiri.

Peragaan gerakan jurus Broneng
(Koleksi pribadi)

b.      Ganden: Sebuah teknik gerakan untuk menangkis pukulan lawan di bagian bawah, dengan salah satu tangan yang menangkis dan sekaligus memukul kembali di bagian atas kepala lawan dengan tangan lainnya.

Peragaan gerakan jurus Ganden
(Koleksi pribadi)

c.       Bandut: Sebuah teknik gerakan untuk menangkap pukulan lawan dengan salah satu tangan, kemudian mengayunkan tangan lainnya dari bawah untuk memukul lawan di bagian alat vital, perut di ulu hati hingga dagu lawan.

Peragaan gerakan jurus Bandut
(Koleksi pribadi)

d.      Petir: Sebuah teknik gerakan, untuk menangkap pukulan lawan dengan menangkap tangan lawan dengan gerakan salah satu tangan pesilat di bagian bawah dan menguncinya, lalu menyerang lawan kembali di bagian dada atau dapat juga bagian atas tubuh lawan, seperti leher dan kepala dengan sikut pesilat.

Peragaan gerakan jurus Petir
(Koleksi pribadi)

e.       Tingkes: Sebuah teknik gerakan, untuk menangkis serangan lawan dan membuang serangannya ke bagian luar.

Peragaan gerakan jurus Tingkes
(Koleksi pribadi)

f.        Beksi I: Sebuah teknik gerakan yang hampir sama dengan jurus Beksi. Namun jurus ini mempunyai teknik gerakan hanya untuk menahan dan mengambil pukulan lawan sekaligus menguncinya, tidak langsung membalasnya dengan pukulan kembali. Pesilat yang melakukan gerakan jurus Beksi I ini, biasanya bergerak setelah diserang lawan dengan sebuah pukulan tangan, kemudian diserang kembali oleh lawan dengan tangan yang lain, maka kedua tangan lawan semua akan diambil dan dikunci dari bawah oleh tangan pesilat dengan cara dilipat serta ditarik ke belakang.


Peragaan gerakan jurus Beksi I
(Koleksi pribadi)

g.       Silem: Sebuah teknik gerakan pertahanan bagian bawah, dengan salah satu kaki pesilat bertumpuk di tanah. Tujuan utamanya adalah untuk bertahan sekaligus menyerang, apabila lawan memainkan penyerangan bawah. Teknik ini dapat juga dilakukan oleh pesilat untuk bertahan dan menyerang bagian bawah lawan, sekalipun lawan menyerang tanpa memainkan teknik bagian bawah, atau dengan kata lain lawan tetap berdiri dan menyerang dari atas. Pesilat dalam menyerang, dari sisi kiri atau kanan lawan.

Peragaan gerakan jurus Silem
(Koleksi pribadi)

h.     Bolang-baling: Sebuah teknik gerakan untuk menangkap pukulan lawan dengan teknik tangan memutarkan tangan pesilat. Teknik gerakan ini seperti baling-baling atau sekilas seperti putaran lingkaran Yin Yang, untuk mengunci serangan pukulan lawan. Gerakan ini dilakukan dengan salah tangan pesilat, mengambil tangan lawan dari bagian bawah, kemudian menariknya ke dalam untuk melemahkan serangannya.

 Peragaan gerakan jurus Bolang-baling
(Koleksi pribadi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peta Petukangan

Peta Petukangan berada di bawah administrasi distrik Kebayoran tahun 1940. Beberapa tanda situs makam dan masjid dapat diidentifikasikan lokasinya. (Reyhan Biadilla, 280119)

Silsilah dan Jalur Sanad Pengajaran 4 Murid Utama Silat Beksi

Silsilah dan Jalur Sanad Pengajaran 4 Murid Utama Silat Beksi H. Hasbullah H. Hasbullah dilahirkan di Petukangan pada tahun 1863. Ayahnya bernama H Misin, yang masih merupakan keponakan dengan H. Gatong, sehingga silsilah H. Hasbullah dengan H. Godjali adalah keponakan dengan paman. Pada saat itu jika umur antara paman dengan keponakan tidak jauh berbeda, maka biasanya sang paman dipanggil dengan sebutan abang , bukan ncang . Proses belajarnya H. Hasbullah dalam silat Beksi kepada H. Godjali tergolong unik, sebab H. Godjali yang saat itu telah menguasai jurus dasar silat Beksi, hanya mengajaknya bersama teman sepermainannya, untuk belajar silat Beksi. Saat itu belum ada syarat apapun dari guru kepada muridnya, tetapi dapat berakar kuat jalinan batinnya. H. Hasbullah sendiri telah mempunyai ilmu silat kotek sebelum belajar silat Beksi dari H. Godjali.   Sketsa wajah H. Hasbullah (Sketsa diberikan atas kebaikan hati Iwan Ridwan) Kecerd...

Kong Simin

Simin Murid H. Godjali lainnya dalam silsilah ilmu silat Beksi, adalah  engkong Simin  (selanjutnya  hanya  disebut  namanya  saja  untuk  mempersingkat  tulisan). Dilahirkan pada tahun 1881 dan wafat pada tanggal 22 Oktober 1992. Simin sendiri adalah  kakak  dari  M.  Nur,  jawara  lain  dalam  silsilah  ilmu  silat  Beksi  di Petukangan. Ayah Simin bernama Syua’ib,  atau warga lama Petukangan menyebutnya dengan sebuat  Aip. Dia adalah pedagang ikan di pasar Kebayoran dan seputaran Petukangan. Suatu ketika saat bertransaksi jual-beli ikan di Pasar Ikan (vish markt), Batavia Lama, Syu’aib dipukuli oleh para centeng  Pasar Ikan karena suatu masalah. Simin yang waktu itu masih kecil dan mendampingi ayahnya bertransaksi jual-beli ikan, hanya dapat  melihat dan menangis karena tidak dapat menolong ayahnya. Bermula  dari  peristiwa  tersebut,...