Langsung ke konten utama

Kemunculan Silat Beksi di Petukangan

Kemunculan Silat Beksi di Petukangan
Asal usul silat Beksi menurut penuturan dari guru besar silat Beksi, engkong Dasik, berasal dari Dadap, Tangerang. Pencak silat atau dalam bahasa lokal maen pukulan Beksi yang ada di Petukangan, dalam tradisi lisan berasal dari sebuah cerita mengenai pertarungan antara pendekar Tionghoa melawan jago lokal bernama Lie Tjeng Hok, melawan ayah dari Ki Muhammad Marhalli (selanjutnya hanya disebut Ki Marhalli), Ki Syi’nan. Ayah Ki Marhalli takluk dengan Lie Tjeng Hok Oleh ayahnya, Ki Marhalli diminta belajar kepada Lie Tjeng Hok. Lie Tjeng Hok sendiri, adalah warga etnis Tionghoa yang telah masuk Islam dan tinggal di Dadap. Kemunculan silat Beksi di Dadap sendiri, diperkirakan berasal dari dekade akhir tahun 1880.
Lie Tjeng Hok sendiri, telah mempunyai guru silat bernama Ki Jidan, Ki Raja Bulu dan Ki Mi’ah. Sebuah sumber menyatakan bahwa, Ki Jidan masih mempunyai seorang guru lagi, yang dikenal dengan nama Ki Mursalim. Sayangnya, sosok guru besar ini masih misterius, karena hanya ada satu cerita dari satu narasumber saja. Meskipun begitu, Ki Mursalim ini masih diyakini sebagai guru pertama silat Beksi hingga saat ini.
Pada tahun 1913 terjadi kerusuhan massal anti-Tionghoa di Jawa, terutama di Kudus dan Tangerang. Kerusuhan tersebut memunculkan pamor para pendekar-pendekar Tionghoa, yang mempertahankan diri dan lingkungannya dari serangan warga non Tionghoa. Dapat dimungkinkan bahwa waktu itu Ki Marhalli berada di pihak warga Tionghoa, karena ingin melindungi keluarga gurunya.
Menurut sejarah lisan dari narasumber, bahwa silat Beksi hadir di Petukangan berasal sejak dekade tahun 1910-an. Cerita yang berkembang, bahwa silat Beksi dibawa oleh H. Godjali ke Petukangan, setelah dia adu tanding dengan Ki Marhalli yang merupakan murid dari Lie Tjeng Hok. Setelah pertarungan singkat, H. Godjali kalah tanding, tetapi kemudian H. Godjali berniat belajar ilmu silat kepada Ki Marhalli. Ki Marhalli mengajarkan ilmu silat Beksi kepada H. Godjali dengan hanya 4 jurus dasar saja.
Menurut penuturan, setelah selesai belajar di Dadap, H. Godjali mengajarkan ilmu silat yang dimiliki olehnya, mula-mula kepada H. Hasbullah, yang masih merupakan sepupunya. Silat Beksi kemudian disebarluaskan melalui teman-teman dekat dari H. Hasbullah, terutama Simin, Muhammad Nur dan Mandor Minggu serta warga Petukangan lainnya. Itu semua terjadi pada dekade tahun 1920-an hingga awal tahun 1930-an. Pada satu sumber, menyatakan pada dekade tahun 1940-an.
Menurut penuturan beberapa narasumber, kemunculan silat Beksi, terutama sejarah pengembangan jurus-jurus silat Beksi dari para murid H. Godjali, terjadi secara parsial dan tidak seragam. Jurus yang seragam hanya empat jurus dasarnya saja. H. Godjali pun, sebelum belajar kepada Ki Marhalli, sudah mempunyai jurus silat sendiri, yang disebut torogtog. Sampai pada pengajaran 4 jurus dasar tersebut, H. Godjali tetap merupakan guru utama dari kampung Petukangan, terutama pada keempat murid utamanya.
Pasca pengajaran oleh H. Godjali kepada 4 murid utamanya, para murid H. Godjali kemudian mengembangkan jurus silat Beksi dengan belajar kembali kepada guru besar yang lain, seperti langsung kepada Ki Marhalli ataupun kepada Lie Tjeng Hok. Hingga kini, diyakini bahwa 12 jurus silat Beksi yang ada di Petukangan, merupakan hasil pengembangan dari mereka. Silat Beksi yang kini berkembang di Dadap, Tangerang, mempunyai banyak jurus. Ada 20 lebih jurus yang berkembang di Dadap, sedangkan di Petukangan, tetap 12 jurus dasar. Meskipun begitu, jurus-jurus silat Beksi di Dadap dan di Petukangan, secara tahapan sama. Karakteristik silat Beksi di Dadap dan di Petukangan jika ditilik secara jurus umumnya sama, tetapi dapat berbeda dalam gerakan. Hal tersebut dapat terjadi, terutama karena kondisi fisik serta proses belajar para jawara-nya yang berbeda, sehingga jika dilihat saat ini, gerak langkah silat Beksi Petukangan menghasilkan gerakan silat yang khas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peta Petukangan

Peta Petukangan berada di bawah administrasi distrik Kebayoran tahun 1940. Beberapa tanda situs makam dan masjid dapat diidentifikasikan lokasinya. (Reyhan Biadilla, 280119)

Silsilah dan Jalur Sanad Pengajaran 4 Murid Utama Silat Beksi

Silsilah dan Jalur Sanad Pengajaran 4 Murid Utama Silat Beksi H. Hasbullah H. Hasbullah dilahirkan di Petukangan pada tahun 1863. Ayahnya bernama H Misin, yang masih merupakan keponakan dengan H. Gatong, sehingga silsilah H. Hasbullah dengan H. Godjali adalah keponakan dengan paman. Pada saat itu jika umur antara paman dengan keponakan tidak jauh berbeda, maka biasanya sang paman dipanggil dengan sebutan abang , bukan ncang . Proses belajarnya H. Hasbullah dalam silat Beksi kepada H. Godjali tergolong unik, sebab H. Godjali yang saat itu telah menguasai jurus dasar silat Beksi, hanya mengajaknya bersama teman sepermainannya, untuk belajar silat Beksi. Saat itu belum ada syarat apapun dari guru kepada muridnya, tetapi dapat berakar kuat jalinan batinnya. H. Hasbullah sendiri telah mempunyai ilmu silat kotek sebelum belajar silat Beksi dari H. Godjali.   Sketsa wajah H. Hasbullah (Sketsa diberikan atas kebaikan hati Iwan Ridwan) Kecerd...

Kong Simin

Simin Murid H. Godjali lainnya dalam silsilah ilmu silat Beksi, adalah  engkong Simin  (selanjutnya  hanya  disebut  namanya  saja  untuk  mempersingkat  tulisan). Dilahirkan pada tahun 1881 dan wafat pada tanggal 22 Oktober 1992. Simin sendiri adalah  kakak  dari  M.  Nur,  jawara  lain  dalam  silsilah  ilmu  silat  Beksi  di Petukangan. Ayah Simin bernama Syua’ib,  atau warga lama Petukangan menyebutnya dengan sebuat  Aip. Dia adalah pedagang ikan di pasar Kebayoran dan seputaran Petukangan. Suatu ketika saat bertransaksi jual-beli ikan di Pasar Ikan (vish markt), Batavia Lama, Syu’aib dipukuli oleh para centeng  Pasar Ikan karena suatu masalah. Simin yang waktu itu masih kecil dan mendampingi ayahnya bertransaksi jual-beli ikan, hanya dapat  melihat dan menangis karena tidak dapat menolong ayahnya. Bermula  dari  peristiwa  tersebut,...