Langsung ke konten utama

Mekanisme Pembelajaran Silat Beksi

1.       Proses Pembelajaran

Semua guru pada awalnya mengajarkan satu tahapan jurus secara serempak, antara murid satu dengan murid lainnya, tetapi tidak semua murid dapat mengikuti sesuai arahan sang guru. Para murid yang memang secara bakat alami, dapat mahir menggerakkan gerakan silat Beksi, akan secara cepat menerima maksud pengajaran sang guru. Biasanya para guru akan mengajarkan dengan kondisi terpisah, sang murid yang telah mahir dan yang belum mahir dalam gerakan silat, walaupun mereka diterima sebagai murid sang guru dalam waktu yang bersamaan.
Setiap guru menjalani proses pemberlajaran murid dengan cara yang berbeda-beda. Terdapat tahapan-tahapan atau aktifitas tertentu, ketika murid belajar dari semua jalur guru. Para guru awal yang mengajarkan silat Beksi, selalu dilakukan pada malam hari. Pada masa lalu selain untuk alasan keamanan bagi guru dan murid dari pantauan pihak kolonial, melakukan pengajaran pada malam hari adalah waktu yang tepat untuk belajar karena waktunya panjang dan dalam kondisi fisik prima dan udara yang segar. Biasanya para guru mengajarkan silat Beksi kepada murid-murid mereka selepas sholat Isya’ berjama’ah dan mengaji. Para guru silat Beksi sendirilah yang mengajar mereka mengaji.
Seiring perkembangan zaman, waktu pengajaran silat Beksi berubah dari malam hari ke siang hari, terutama oleh guru Simin, saat menjadi instruktur militer pada masa Pendudukan Jepang 1943-1945. Saat para guru berada di Bekasi-Karawang atau saat para guru mengajar ke luar daerah di sekitar Petukangan pasca kemerdekaan Indonesia, waktu pembelajaran dilakukan pada siang hari. Pengguaan senjata dalam arena pertarungan oleh guru M. Nur, menunjukkan bahwa silat tidak saja mengandalkan gerakan tubuh semata, tetapi segala sesuatu dapat dijadikan senjata, sesuai dengan kebutuhannya. Begitupula dari guru-guru yang lain, tetapi tidak terlalu menonjol dan penggunaan senjata untuk bela diri, dianggap pilihan lain dalam pertarungan.

Tempat pembelajaran dahulu berada di sebuah lapangan kecil di tengah kebun yang jauh dari jalan raya atau pantauan pihak kolonial. Pasca kemerdekaan tempat pembelajaran berada di pelataran rumah sang guru yang luas. Kadang-kadang sang guru mengunjungi muridnya yang agak luas dan mengajarkan di sana, dengan diikuti oleh teman-teman si murid. Para guru awal silat Beksi tidak pernah meminta, apalagi menetapkan bayaran dalam mengajarkan silat. Seringkali sang murid dan keluarganya yang datang dan memberikan sesuatu untuk dibawa pulang oleh sang guru. Sebuah cerita dari nara sumber mengatakan, pernah suatu kali saat kepulangan mereka (para guru) dari mengajar di Bekasi-Karawang, membawa gerobak penuh bahan pangan, pemberian dari warga atau anaknya yang diajarkan silat Beksi oleh para guru (H. Hasbullah, Simin dan M.Nur).
Tiap guru mempunyai keunikan dalam tahapan-tahapan proses pembelajaran. Tahapan pembelajaran dari guru H. Hasbullah yaitu: si murid harus melakukan rasulan di awal dan kembali melaksanakan rasulan di tengah proses pembelajaran setelah selesai 5- 6 jurus. Tahapan dalam proses pembelajaran itupun dilakukan oleh guru H. Hasbullah, setelah si murid telah benar-benar mahir menguasai jurus yang diajarkan dan diperlihatkannya langsung kepada guru H. Hasbullah, sambil menetapkan ketangkasan gerakan si murid. Saat proses pembelajaran, sebagaimana terlihat dalam sebuah adegan dalam film Darah Muda yang diperankan olehnya dan Rhoma Irama, H. Hasbullah memukulkan batang tebu yang telah matang ke bagian tangan. Teknik latihan seperti ini, diketahui berasal dari Cimande, di mana hal itu merupakan lambang kekuatan yang disimbolkan dari batang tebu yang keras. Setelah itu, beberapa teknik pembelajaran dilakukan dengan bermacam hal, seperti melatih ketangkasan dan kekuatan tubuh, melalui serangkaian pengangkatan beban fisik yang berat.

Lain halnya dengan guru Simin, sebelum melaksanakan latihan, selalu memerintahkan para muridnya, untuk membasuh muka dan tangan mereka, dengan air kembang yang telah diberinya doa-doa tertentu. Setelah semua murid melaksanakan perintah gurunya, bekas air basuhan tersebut oleh guru Simin disiramkan ke tanah sebagai garis pembatas untuk si murid, untuk berlatih dalam jangkauan empat jurus (langkah). Kondisi tersebut terjadi setelah tahun 1960-an. Tahapan pembelajaran lain yang dilakukan oleh guru Simin, yaitu dengan meminta kepada si murid, untuk melaksanakan rasulan, setiap selesai menguasai 3 jurus. Proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru Simin kepada muridnya, dilakukan secara privat satu persatu dan dimulai dari murid yang lebih dahulu diterima oleh guru Simin. Biasanya setelah semua murid belajar silat di rumah guru Simin, mereka semua diberikan makan sebelum pulang ke rumah masing-masing. Pembelajaran yang dilakukan oleh guru Simin, pada saat dia menjadi instruktur militer pada masa pendudukan Jepang, disesuaikan dengan kebutuhan militer.

Tahapan dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru M. Nur, adalah dengan hanya mengajarkan 3-4 orang murid saja setiap kali sesi pengajaran. Pengajaran silat dilakukan setelah melaksanakan dzikir sejak setelah sholat maghrib berjama’ah hingga   masuk   waktu   isya’   dan   kemudian dengan   sholat berjama’ah.   
 Sebelum melaksanakan pelatihan, guru M. Nur biasanya melakukan tawashulan bersama para muridnya kepada para Nabi Muhammad, para sahabatnya, para wali dan para guru awal silat Beksi. Setiap si murid selesai menguasai 6 jurus, maka oleh guru M. Nur, diadakan jamuan nyusu dan rujakan disertai selamatan, yang didoakan oleh semua murid yang hadir. Para murid dari guru M. Nur juga dibekali kemampuan menggunakan senjata tradisional, sebagai salah satu media pertahanan. Hal ini menjadi keunikan tersendiri dari guru M. Nur.

Proses pembelajaran dari guru Mandor Minggu, dahulu dilakukan di malam hari setelah semua murid selesai melaksanakan sholat Isya’ berjama’ah. Murid yang hadir di rumah guru Mandor Minggu, diminta untuk menyiramkan tanah agar cukup lunak, untuk dapat dijadikan pijakan dan gerakan jurus gedig. Hal tersebut dilakukan karena gerakan jurus gedig lebih memperkuat kuda-kuda si murid, jika tanahnya keras, maka si murid akan merasa sedikit sakit pada kaki dan lututnya. Kadang-kadang proses pembelajaran silat Beksi, dilakukan di dalam pendopo rumahnya yang agak besar dan luas. Guru Mandor Minggu  mengajarkan  silat  Beksi  kepada  murid  satu  persatu,  sampai  semua  murid memahami dan dapat menggerakkan jurus silat Beksi sampai benar. Semua murid harus sama rata penguasaannya, jika salah satu murid masih tertinggal dari murid lainnya, sekalipun murid lainnya sudah menguasai jurus yang diberikan guru, maka murid lainnya yang sudah mahir, harus menunggu temannya yang belum mahir. Menariknya dari proses pembelajaran Mandor Minggu adalah, penggunaan senjata adalah opsi terakhir dalam pertarungan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peta Petukangan

Peta Petukangan berada di bawah administrasi distrik Kebayoran tahun 1940. Beberapa tanda situs makam dan masjid dapat diidentifikasikan lokasinya. (Reyhan Biadilla, 280119)

Silsilah dan Jalur Sanad Pengajaran 4 Murid Utama Silat Beksi

Silsilah dan Jalur Sanad Pengajaran 4 Murid Utama Silat Beksi H. Hasbullah H. Hasbullah dilahirkan di Petukangan pada tahun 1863. Ayahnya bernama H Misin, yang masih merupakan keponakan dengan H. Gatong, sehingga silsilah H. Hasbullah dengan H. Godjali adalah keponakan dengan paman. Pada saat itu jika umur antara paman dengan keponakan tidak jauh berbeda, maka biasanya sang paman dipanggil dengan sebutan abang , bukan ncang . Proses belajarnya H. Hasbullah dalam silat Beksi kepada H. Godjali tergolong unik, sebab H. Godjali yang saat itu telah menguasai jurus dasar silat Beksi, hanya mengajaknya bersama teman sepermainannya, untuk belajar silat Beksi. Saat itu belum ada syarat apapun dari guru kepada muridnya, tetapi dapat berakar kuat jalinan batinnya. H. Hasbullah sendiri telah mempunyai ilmu silat kotek sebelum belajar silat Beksi dari H. Godjali.   Sketsa wajah H. Hasbullah (Sketsa diberikan atas kebaikan hati Iwan Ridwan) Kecerd...

Kong Simin

Simin Murid H. Godjali lainnya dalam silsilah ilmu silat Beksi, adalah  engkong Simin  (selanjutnya  hanya  disebut  namanya  saja  untuk  mempersingkat  tulisan). Dilahirkan pada tahun 1881 dan wafat pada tanggal 22 Oktober 1992. Simin sendiri adalah  kakak  dari  M.  Nur,  jawara  lain  dalam  silsilah  ilmu  silat  Beksi  di Petukangan. Ayah Simin bernama Syua’ib,  atau warga lama Petukangan menyebutnya dengan sebuat  Aip. Dia adalah pedagang ikan di pasar Kebayoran dan seputaran Petukangan. Suatu ketika saat bertransaksi jual-beli ikan di Pasar Ikan (vish markt), Batavia Lama, Syu’aib dipukuli oleh para centeng  Pasar Ikan karena suatu masalah. Simin yang waktu itu masih kecil dan mendampingi ayahnya bertransaksi jual-beli ikan, hanya dapat  melihat dan menangis karena tidak dapat menolong ayahnya. Bermula  dari  peristiwa  tersebut,...