1. Wisuda Murid Pasca Belajar Paripurna
Wisuda murid adalah proses akhir, yang akan dilalui oleh seorang murid yang melakukan tahapan dalam pembelajaran silat Beksi. Semua
proses tersebut akan diakhiri dengan melakukan sebuah prosesi tradisi yang disebut rasulan. Tradisi rasulan adalah
sebuah proses berdoa yang dipimpin oleh seorang guru, dengan murid-murid
menghadapnya. Prosesi ini dilaksanakan dengan menyediakan sajian, yang dibawa
oleh murid dalam sebuah wadah yang berisi
pokok: pisau cap Garpu dan ubo rampe, yang setiap guru berbeda-beda. Cara wisuda yang diterapkan oleh para guru juga
berbeda-beda, tetapi semua tujuannya sama.
Cara wisuda dari guru H. Hasbullah, yaitu:
si murid yang sudah dalam proses
akhir dan akan melaksanakan wisuda, adalah memerintahkannya untuk
berpuasa dan si murid di-pingit atau
tidak boleh ke luar ruangan dengan
bertirakat, sehari sebelum ijazah wisuda diberikan. Seorang murid hanya
diizinkan untuk meminum air putih saja saat berbuka dan si murid dilarang melihat wanita atau bersenggolan dengan
wanita, yang waktunya dilakukan setelah sholat maghrib hingga waktu sholat
maghrib di hari setelahnya. Setelah prosesi ini selesai, seorang murid akan
diuji ketangkasannya oleh guru H. Hasbullah sebelum dinyatakan selesai
penguasaan jurus-jurus yang diajarkan oleh gurunya. Si murid kemudian diberikan ijazah lisan, sebagai tanda bahwa si
murid telah selesai belajar silat Beksi dan berhak untuk mengajarkannya
kembali. Setelah itu semua dilaksanakan, lalu diadakan tradisi rasulan antara guru dan murid,
dengan seorang murid menyediakan sajian sebagaimana diulas sebelumnya.
Sebagaimana guru lainnya,
cara wisuda murid dari guru Simin yang telah paripurna belajar silat Beksi, adalah
dengan mengadakan tradisi rasulan dan
berdoa bersama. Guru Simin tidak mensyaratkan kepada para muridnya yang akan melaksanakan wisuda
dengan aktifitas tertentu, kecuali
banyak berdzikir secara pribadi. Pada tahap paling
akhir sebelum memberikan ijazah
secara lisan, guru Simin biasanya
memberikan ilmu pengobatan kepada muridnya. Hal ini tidak berlaku kepada
pihak keluarga dan dilarang meminta
kepada murid yang diajarkan. Setelah
seorang murid diberikan ijazah lisan bahwa dia telah selesai belajar silat Beksi dan berhak mengajarkannya, seorang murid
akan diberikan amalan yang ada dalam lingkup
ketarekatan, sehingga seorang
murid benar-benar paripurna
belajar fisik dan batin
di bawah pantauan guru Simin. Prosesi tersebut tidak terjadi, ketika guru Simin
menjadi instruktur militer di Bogor. Pelaksanaan wisuda disesuaikan proses
pembelajaran militer, bukan penguasaan jurus silat Beksi.
Tradisi rasulan yang disyaratkan oleh guru M. Nur, untuk
proses wisuda murid dilakukan dengan beberapa tahapan. Tahpan pertama, murid yang akan wisuda menyediakan
sajian ayam ingkung, kelapa hijau, kembang
tujuh rupa, jajan pasar dan pisau
cap Garpu. Sajian tersebut ditambah dengan sajian rujak, untuk didoakan dan
dimakan bersama dengan para murid lainnya. Sebelum benar-benar menerima ijazah
dari seorang guru, biasanya seorang murid diminta untuk makan sayur daun kelor dan dilarang memakannya seumur hidup
setelah itu. Setelah selesai memakan sayur kelor, seorang murid akan diminta
oleh guru M. Nur memegang ibu jari
tangan kanan sang guru, kemudian mengucapkan syahadat dan sang guru mengucapkan ijazah lisan yang diikuti oleh si murid. Setelah prosesi itu dilaksanakan,
maka seorang murid sudah dinyatakan paripurna
belajar silat Beksi dan berhak
untuk memberi pelajaran
silat Beksi di tempat lain atau dalam bimbingan guru M. Nur,
mengajar murid-murid yang baru di
tempat gurunya. Sesekali para murid yang sudah
diwisuda, akan meminta sebuah amalan doa dari guru M. Nur.
Tata cara wisuda dari guru Mandor Minggu adalah dengan
mengadakan rasulan. Sebagaiama
tradisi rasulan yang diselenggarakan oleh guru silat Beksi
yang lain, semuanya hampir
sama. Beberapa perbedaan dari cara wisuda
dari Mandor Minggu
adalah, jika terdapat murid non muslim maka si murid hanya memberikan biaya penyediaan ubo rampe tradisi rasulan saja.
Si murid tidak akan mengikuti rapalan
doa tradisi rasulan, kecuali hanya
mengikuti kegiatan seremonial saja. Di balik penyelenggaraan tradisi rasulan dalam prosesi wisuda murid,
terdapat filosofi yang mempunyai makna bagi diri si murid. Hal tersebut tercermin dari isi ubo rampe (sajian dalam wadah) tradisi
rasulan, yaitu adanya pisau cap Garpu.
Pisau ini adalah
buatan Karlsruhe, Jerman,
dengan bahan baja nan tajam.
Hal ini menyimbolkan kekuatan dan ketajaman hati dan akal pesilat Beksi. Adanya
kembang tujuh rupa dan air kelapa hijau, kembang tujuh rupa menyimbolkan
keharuman nama diri, komunitas serta gurunya. Sedangkan
air kelapa hijau, menyimbolkan dinginnya hati dalam kesabaran
dan kemurnian perilaku
yang baik dari pesilat,
kapan dan dimanapun dia berada. Setelah
pertarungan, biasanya lawan yang kalah
akan disembuhkan dengan ilmu pengobatan yang dimiliki oleh si pesilat. Begitupun
jika orang lain non pesilat
datang kepadanya memohon pertolongan.
Prinsip olah batin pencak silat telah diresapi dengan
doktrin agama, dalam hal ini religi Islam pada silat Beksi. Doktrin agama Islam
membentuk kepribadian seseorang maupun keseluruhan bidang, meskipun tidak semua
dapat menerapkan hal ini. Pada dasarnya seorang pendekar pencak silat, telah
diberikan batasan-batasan mana saja yang menjadi hak dan kewajibannya. Nafas
religius itulah yang kemudian menggerakkan langkah-langkah terbaik, yang harus
didapatkan dalam perjalanan hidup seorang pesilat, baik di dalam maupun di luar
arena. Hakikat pencak silat atau bela diri, adalah kemahiran teknis membela
diri, yang tidak semata-mata mengandalkan kekuatan jasmani, melainkan
kecerdasan akal dan kepekaan rasa, yang diperoleh melalui latihan yang tekun.
Komentar
Posting Komentar