Langsung ke konten utama

Pengertian Silat Beksi

Pengertian Silat Beksi

Keadaan alam serta berbagai hal yang menaungi lingkungannya, memunculkan sesuatu yang berkaitan dengan perilaku manusia penghuninya. Sebuah kebudayaan berasal dari olah rasa, karya dan karsa, menurut Koentjaraningrat yang dikutip dari J.J Honigmann, proses kehidupan memunculkan tiga gejala kebudayaan, yaitu: (1) ideas, (2) activities (3) artifact, prinsip pokok dari kebudayaan di dunia menurutnya pula ada tujuh, yaitu bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi dan kesenian.
Salah satu artefak budaya tak benda dalam bentuk tindakan (activities) adalah silat. Silat merupakan sebuah hasil dari pemikiran manusia, yang tertuang dalam bentuk tindakan, untuk mengahadapi lingkungan di sekitarnya, atau dapat pula merupakan oleh rasa yang dituangkan dalam bentuk gerakan-gerakan yang sifatnya sebagai pertahanan diri dan komunitasnya dari segala ancaman.
Pada masa Kerajaan Islam, seni dan ilmu bela diri silat digunakan sebagai alat berdakwah, karena seringkali daerah yang jauh dari kotaraja dan lamban perkembangannya dari ilmu dan budaya masyarakat yang tumbuh di kotaraja, silat adalah salah satu pegangan untuk membela diri ataupun untuk menaklukkan suatu daerah yang menentang pendakwahnya. Tidak jarang harus dilakukan perang tanding dahulu, dengan jago-jago setempat sebelum bisa berdakwah.
Dakwah dan pembukaan wilayah baru ke pedalaman begitu berbahaya, sehingga seorang pendakwah harus dibekali keberanian dan ilmu pencak silat untuk melawan keadaan. Sebab daerah yang didakwahi jauh dari jangkauan aparat keamanan dari kota. Seorang pendakwah (jawara) tidak jarang harus menapaki tahapan kekerasan, sebagai sebuah usaha dakwah, ketika dia terbentur oleh aturan yang telah berlaku atau kerasnya (sulitnya) memasukkan ide-ide tertentu di suatu kaum.
Peralihan dan pertukaran kebudayaan dalam masyarakat, dapat terjadi melalui migrasi penduduk, pernikahan atau pembelajaran. Semua jalan itu dimaksudkan untuk mempercepat proses pembauran dan penyebaran ide-ide dalam masyarakat secara normatif. Bela diri sebagai salah satu media pertukaran dan peralihan satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya, baik di masa damai maupun perang, jauh dari kesan kontradiktif antara satu golongan dengan golongan lainnya. Sepanjang sejarah Jawa, para pemuda yang menuntut ilmu sebelum mencapai usia dewasa, telah dididik dengan matang, baik di dalam atau di luar pesantren atau ke para jago atau jawara, yang selalu membimbing mereka dalam mempelajari ilmu-ilmu kehidupan, terutama religi Islam.
Bela diri (kesenian) telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Bumiputra (Nusantara). Beberapa kawasan etnik di kota-kota besar seperti Batavia (contohnya Tanah Abang, Kebayoran Lama, Pasar Senen, Pasar Jatinegara misalnya) dan Surabaya (seperti kampung Kapasan), pada zaman Belanda merupakan pusat bisnis tetapi menjadi kawasan yang rawan, lalu muncullah segolongan orang yang dapat mempertahankan miliknya atau orang lain. Kawasan-kawasan tersebut juga merupakan kawasan asimilasi dan pertemuan (muara) berbagai budaya untuk saling melengkapi. Adanya percampuran etnis dalam kehidupan sosial, membentuk sebuah golongan yang berdasar pada lokalitas tertentu atau ideologi tertentu. Seperti di Petukangan dengan silat Beksinya, yang itu semua merupakan suatu produk sosial masyarakat Betawi yang khas.
Asal-usul istilah silat agaknya berasal dari bahasa Arab, shilat, yang berarti sambung. Banyak perguruan silat dan terutama silat Beksi, selalu menekankan kepada para muridnya untuk selalu 3 S, yaitu sholat, sholawat dan silat. Silat dapat juga bermakna menari atau pencak, sehingga kata silat sering dikaitkan dengan kata pencak, menjadi pencak silat. Di sebuah tempat di Bogor, yaitu di Cimande, ada sebuah nama kampung yang dinamakan Tari Kolot atau tarian tua. Kampung tersebut merupakan salah satu asal- usul tradisi pencak silat di Jawa Barat dan bahkan di Jakarta. Silat di wilayah adat Minangkabau, ikut meramaikan ekspresi silat di Indonesia. Hampir semua penari tradisi, adalah pesilat yang telah ahli dan mencapai tataran tinggi, tetapi tidak semua pesilat dapat menari. Sehingga terdapat ungkapan “menari bagai pesilat”.
Kata Beksi sendiri berasal dari kata Bhe Xie, Bhe Sie dan Bek Sie dengan arti empat langkah. Terdapat penggabungan dua asal usul istilah Beksi. Pertama, istilah Beksi berasal dari bahasa Tiongkok, yang berarti empat kaki kuda (kuda-kuda). Kedua, penggabungan kosa kata bahasa Belanda dan Tiongkok, dari kata bek yang berarti bertahan dan sie, yang berarti empat, menjadi empat sisi pertahanan. Istilah Beksi kemudian berkembang menjadi pertahanan empat langkah atau empat penjuru, dimana semua sisi harus mendapat perlindungan. Pemberian ini tidak lepas dari pengaruh Tionghoa, dengan salah satu guru besarnya, Lie Tjeng Hok merupakan salah satu bagian atas dari silsilah utama sanad keilmuan silat Beksi. Istilah Beksi, juga sering dikaitkan dengan akronim: “Berbaktilah Engkau Kepada Sesama Insan”.
Silat Beksi adalah bagian dari tradisi maenpukulan atau maenpok dari tradisi besar silat Nusantara. Beberapa jurus silat Beksi merupakan perpaduan dari berbagai aliran silat, seperti Cimande. Jurus silat Beksi dasar memang hanya 4 saja, tetapi kemudian dikembangkan secara mandiri oleh para murid Lie Tjeng Hok. Pengembangan jurus yang dilakukan oleh para murid Lie Tjeng Hok, merupakan ekspresi diri dan hasil belajar lebih lanjut, untuk kemudian diterapkan sesuai dengan kondisi pribadi, dan murid-muridnya di sekitar daerah Petukangan.
Saat ini jurus dasar 4 langkah Beksi, masih tetap dilestarikan. Setelah melalui beberapa proses pengembangan yang disepakati, saat ini terdapat 12 jurus dasar silat Beksi. Beberapa orang guru besar silat Beksi mempunyai ekspresi gerak dan jurus tambahan lainnya, yang berbeda satu dengan lainnya. Sebab beberapa guru besar murid dari engkong H. Godjali, mengadakan pengembangan diri secara pribadi, setelah selesainya proses belajar mereka pada engkong H. Godjali, sehingga para murid yang belajar dari para guru besar, seperti engkong H. Hasbullah, engkong Simin, engkong Muhammad Nur dan engkong Mandor Minggu, mempunyai ciri khas gerak silat Beksi tersendiri. Mereka tetap bagian dari silat Beksi, tetapi mempunyai ekspresi dan gaya silat yang berbeda-beda.
Ilmu silat memang bukan berasal dari ajaran Islam, tetapi dekatnya ilmu silat dengan ajaran Islam, menjadikannya sangat identik dengan agama Islam, terutama di Nusantara (Indonesia). Ajaran dasar Islam dalam ilmu fiqh memerintahkan para penganutnya, untuk menjaga hal dasar dari hidup dan kehidupan, yaitu jiwa, akal, kehormatan, iman, harta dan negara.
Dilapisinya silat Beksi dengan nilai-nilai religius Islam, merupakan sebuah sarana untuk selalu dekat dengan sang Maha Pencipta. Sebab tujuan utama belajar silat Beksi, selain untuk media pertahanan diri, belajar silat Beksi bertujuan untuk mendekatkan diri secara batiniyyah kepada sang Maha Pencipta. Ada beberapa proses belajar dalam silat Beksi, yang sangat Islami, seperti tradisi rasulan, tawasulan dan doa-doa tambahan lainnya, yang bersumber pada nilai-nilai agama Islam. Meskipun begitu, setiap orang bebas belajar silat Beksi walaupun berbeda agama, hanya saja menurut penuturan para guru, mereka hanya belajar gerak silatnya saja secara fisik, tetapi ruh batiniyyahnya tidak sampai sebagaimana yang dimaksud.
Silat Beksi dapat dinyatakan sebagai bagian dari identitas budaya Betawi dan tradisi Islam yang khas di Indonesia. Meskipun tidak berasal dari daerah Petukangan, tetapi silat Beksi tumbuh dan besar di Petukangan, yang merupakan salah satu bagian dari lingkungan kebudayaan Betawi dengan aspek spiritualitas Islami yang berakar kuat. Saat ini silat Beksi sudah diakui menjadi bagian dari budaya besar warga Jakarta. Dukungan kuat dari pemerintah Provinsi DKI Jakarta, akan semakin memperkuat kemajuan warga DKI Jakarta dalam bidang seni-budaya, dan terutama ekonomi kreatif di bidang pariwisata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peta Petukangan

Peta Petukangan berada di bawah administrasi distrik Kebayoran tahun 1940. Beberapa tanda situs makam dan masjid dapat diidentifikasikan lokasinya. (Reyhan Biadilla, 280119)

Silsilah dan Jalur Sanad Pengajaran 4 Murid Utama Silat Beksi

Silsilah dan Jalur Sanad Pengajaran 4 Murid Utama Silat Beksi H. Hasbullah H. Hasbullah dilahirkan di Petukangan pada tahun 1863. Ayahnya bernama H Misin, yang masih merupakan keponakan dengan H. Gatong, sehingga silsilah H. Hasbullah dengan H. Godjali adalah keponakan dengan paman. Pada saat itu jika umur antara paman dengan keponakan tidak jauh berbeda, maka biasanya sang paman dipanggil dengan sebutan abang , bukan ncang . Proses belajarnya H. Hasbullah dalam silat Beksi kepada H. Godjali tergolong unik, sebab H. Godjali yang saat itu telah menguasai jurus dasar silat Beksi, hanya mengajaknya bersama teman sepermainannya, untuk belajar silat Beksi. Saat itu belum ada syarat apapun dari guru kepada muridnya, tetapi dapat berakar kuat jalinan batinnya. H. Hasbullah sendiri telah mempunyai ilmu silat kotek sebelum belajar silat Beksi dari H. Godjali.   Sketsa wajah H. Hasbullah (Sketsa diberikan atas kebaikan hati Iwan Ridwan) Kecerd...

Kong Simin

Simin Murid H. Godjali lainnya dalam silsilah ilmu silat Beksi, adalah  engkong Simin  (selanjutnya  hanya  disebut  namanya  saja  untuk  mempersingkat  tulisan). Dilahirkan pada tahun 1881 dan wafat pada tanggal 22 Oktober 1992. Simin sendiri adalah  kakak  dari  M.  Nur,  jawara  lain  dalam  silsilah  ilmu  silat  Beksi  di Petukangan. Ayah Simin bernama Syua’ib,  atau warga lama Petukangan menyebutnya dengan sebuat  Aip. Dia adalah pedagang ikan di pasar Kebayoran dan seputaran Petukangan. Suatu ketika saat bertransaksi jual-beli ikan di Pasar Ikan (vish markt), Batavia Lama, Syu’aib dipukuli oleh para centeng  Pasar Ikan karena suatu masalah. Simin yang waktu itu masih kecil dan mendampingi ayahnya bertransaksi jual-beli ikan, hanya dapat  melihat dan menangis karena tidak dapat menolong ayahnya. Bermula  dari  peristiwa  tersebut,...