Peran Pemerintah Terhadap Keberlangsungan Silat Beksi
Orang-orang Betawi yang sekarang dapat dikategorikan
sebagai Betawi Pinggir, adalah
pendukung dan pemelihara seni budaya asli Betawi. Mereka yang disebut Betawi Pinggir memang secara faktual
berada di pinggiran Jakarta, namun secara kebudayaan, orang-orang yang sudah
tidak lagi berada di tengah kota karena terdesak oleh perkembangan pembangunan,
termasuk juga dalam lingkungan besar budaya Betawi. Kampung besar kebudayaan
Betawi tidak bisa lagi dibatasi oleh batas administratif DKI Jakarta, tetapi
meluas hingga ke penjuru Jabodetabek.
Merujuk fakta ini bahwa salah satu hasil
kebudayaan Betawi silat
Beksi atau topeng Blantek, lahir dan besar di
Petukangan, tetapi meluas hingga ke Tangerang,
Tangerang Selatan, Depok, Bogor hingga Bekasi dan
Karawang. Secara administratif hasil seni dan budaya warga Betawi yang ada di Petukangan, haruslah diakui
juga merupakan kebudayaan besar Betawi dalam wilayah yang kini dibatasi menjadi propinsi DKI Jakarta. Warga Petukangan telah berupaya untuk
meneruskan cerita silat Beksi dan topeng Blantek, dengan cara terus mengajarkannya
kepada generasi muda, baik di wilayah Petukangan sendiri maupun di luar
Petukangan. Cerita-cerita yang diwariskan
turun-temurun di Petukangan,
adalah bagian dari mewariskan cita-cita
heroik dan kesatria,
baik untuk warga Petukangan secara khusus, maupun
bagi warga Betawi pada umumnya.
Sertifikat pengakuan dari negara kepada silat Beksi.
(foto diberikan atas kebaikan hati Abdul Aziz)
Pengakuan dari pemerintah DKI Jakarta, memperkuat identitas kebudayaan daerah dan menjadi dasar secara resmi,
bahwa pemerintah DKI Jakarta ikut mendukung dan memfasilitasi warga dan upaya
pemajuan kebudayaan warga Betawi. Upaya pelestarian dan pemajuan kebudayaan
Betawi tersebut, telah dilakukan oleh Pemerintah Pusat Republik Indonesia
melalui institusi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dengan pemberian
sertifikat pengakuan bahwa silat Beksi di Petukangan, merupakan warisan tak
benda dari kebudayaan Betawi.
Pemerintah merupakan pengayom, sekaligus pendorong paling
kuat untuk pelestarian dan pemberi landasan yuridis, bagi keberlangsungan hasil
budaya negeri sendiri. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah, dapat dikatakan
cukup memadai, dalam konteks membentuk landasan hukum bagi pemajuan kebudayaan.
Pihak-pihak yang berkecimpung di dalamnya, diharapkan mampu melestarikan dan
mensejahterakan masyarakat setempat, di mana budaya tersebut tumbuh. Ini semua
hanya pengantar saja dan yang lebih penting dari itu semua adalah, pewarisan
cerita serta nilai-nilai dari jurus silat Beksi itu sendiri, terhadap warga
Petukangan secara khusus dan warga Betawi pada umumnya, agar itu semua tidak
menjadi hilang dan sia-sia belaka.
DAFTAR SUMBER
Buku
Anderson, Benedict O’G., Java in a Time of Revolution, Occupation and
Resistence, 1944-1946, Itacha and London: Cornell University Press, 1972.
Chaer, Abdul, Folklore
Betawi, Kebudayaan dan Kehidupan Orang Betawi, Depok: Masup Jakarta, 2012.
Cribb,
Robert, Para Jago dan Kaum Revolusioner
Jakarta, 1945-1949, terj. Tim Masup, Depok: Masup Jakarta, 2010.
Dwi
L., Amurwani, “Lue Jual Gua Beli: Jago dan Jagoan Kriminalitas di Jakarta
1930-1960” dalam, Taufik Abdullah dan Sukri Abdurrachman (Ed.), Indonesia Across Order: Arus Bawah Sejarah
Bangsa (1930-1960), Jakarta: LIPI Press, 2011.
Facal, Gabriel, Keyakinan
dan Kekuatan Seni Bela Diri Silat Banten, terj. Arya Seta, Jakarta: Yayasan
Pustakan Obor Indonesia, bekerjasama dengan O’ong Maryono Pencak Silat Award,
2016.
Gazalba, Sidi, Islam dan Kesenian Relevansi Islam Dengan
Seni Budaya Manusia, Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1988.
Grijns, C. D., Kajian Bahasa Melayu-Betawi, Terj.
Rahayu Hidayat, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1991.
Koentjoroningrat,
Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta:
Rineka Cipta, 1990. Kuntowijoyo, Pengantar
Ilmu Sejarah, Yogyakarta: Bentang Pustaka, 2005.
Madjid,
Dien, Dkk., Penerbitan Naskah Sumber,
Perjuangan Mempertahankan Jakarta Masa Awal Proklamasi: Kesaksian Para Pelaku
Peristiwa, Jakarta: Arsip Nasional Republik Indonesia, 1998.
Maryono, O’ong, Pencak Silat Merentang Waktu, Yogyakarta: Yayasan Galang, 1999.
M.D., Sagimun,
“Penggalian dan Pengembangan Cerita Rakyat Betawi”
dalam, Tim Penulis,
Seni Budaya Betawi, Pralokakarya Penggalian dan Pengembangannya,
Jakarta: Dinas Kebudayaan Propinsi DKI Jakarta, Proyek Pelestarian dan
Pengembangan Kesenian Tradisional Betawi, 2000.
Nawi,
G.J., Maen Pukulan: Pencak Silat Khas
Betawi, Edisi 1-Seri Pustaka Pencak Silat No. 1, Jakarta: Yayasan
Obor Indonesia bekerjasama dengan O’ong Maryono
Pencak Silat Award, 2016.
Pranoto, Suhartono W., Jawa, Bandit-bandit Pedesaan, Studi Historis
1850-1942, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010.
Rusyana, Yus, Tuturan
Tentang Pencak Silat Dalam Tradisi Lisan Sunda, Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia dan Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan, 1996.
Saputra, Yahya, Dkk., Beksi, Maen Pukulan Khas Betawi, Jakarta: Gunung Jati, 2002.
Shahab, Alwi, Kisah Betawi Tempo Doeloe, Robin Hood Dari Betawi, Jakarta:
Penerbit Republika, 2012.
Sopandi, Atik, Kartakusuman Dan Hisman dan
Seputro, Wiyoso Yudo (Peny.), Pencak
Silat, Jakarta: Dinas Kebudayaan Propinsi DKI Jakarta, 1992.
Sunarti, dkk., Senjata
Tradisional Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan, Direktorat Jendral Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai
Tradisional, Proyek Penelitian Pengkajian dan Pembinaan Nilai Budaya, 1993.
van
Till, Margreet, Banditry In West Java,
1869-1942, terj. David Mckay dan Beverly Jackson, Singapore: NUS Press,
2011.
Internet
http://maps.library.leiden.edu. Akses 20 November
2018.
https://sejarah-nusantara.anri.go.id. Akses 25 Desember
2018.
http://ngajisejarah.blogspot.com. Akses 25 Desember 2018.
http://syahrilachmad.blogspot.com. Akses 25 Desember 2018.
Jurnal
Irvan Setiawan,
“Silat Betawi Tempo Dulu dan Sekarang” dalam Jurnal Penelitian Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai-nilai Tradisional
Bandung Vol. 40 No. 1 April 2008, Bandung: Balai Pelestarian Sejarah dan
Nilai-nilai Tradisional Bandung, 2008.
Yuzar Purnama, “Mitos Silat
Beksi Betawi”, dalam Jurnal Patanjala
Vol. 10 No. 2 Juni 2018, Bandung: Balai Pelestarian Nilai-nilai Budaya
(BPNB) Jawa Barat, 2018.
Siswantari,
“peranan Pangreh Praja di Tanah Pertikelir Batavia, 1900-1942” dalam Buletin Al- Turas, Mimbar Sejarah, Sastra,
Budaya dan Agama Vo. XXII No. 2,
Juli 2016. Tangerang Selatan: Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas
Islam negeri Syarif Hidayatullah, 2016.
Koran
Frans Sartono dan Ismail Zakaria, “Silek
Melawan Zaman” dalam Kompas, edisi
Minggu 21 Oktober 2018.
Wiwit Purwanto, “Merunut Jejak Kampung
Kungfu Kapasan, Cetak Pendekar Pengusir Begal” dalam Surya No. 171 Tahun. XXV, edisi Senin 31 Januari 2011.
Skripsi
Seto,
R.A. Anggoro, Pencak Silat dan Islam di
Indonesia (Pendekatan Kultural Persaudaraan Setia Hati Dalam Melawan Politik
Kolonialisme Tahun 1903-1930), Yogyakarta: Skripsi S-1 Jurusan SKI Fak.
Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; tidak diterbitkan, 2010.
Visual-Audio
Acara “Beksi Merah, Pertahanan 4 Pejuru” di
Tv One dalam program Jejak Pendekar,
pada 12 Juli 2015.
Wawancara
Nyai Masnih, ± 94 tahun.
Sebagai istri dari engkong Simin dan
ibunda dari engkong M. Salim.
Nyai Hj. Masnun, 86
tahun. Sebagai putri dari engkong M.
Nur.
Nyai Hj.
Masenah, 79 tahun. Sebagai menantu putri dari engkong Mandor Minggu.
Engkong Dasik Aripin, 75 tahun.
Sebagai guru besar silat Beksi Petukangan dan murid dari
engkong H. Hasbullah.
Engkong
Hasanuddin,
67 tahun. Sebagai putra dari engkong Mandor
Minggu.
Nyai Hj. Dahlia, 64
tahun. Sebagai putri dari engkong M.
Nur.
Engkong
M.
Sholeh, 61 tahun. Sebagai putra dari engkong
H. Hasbullah.
Engkong M. Salim, 56 tahun.
Sebagai putra dari engkong Simin.
Bapak Miftahul Jannah, 51 tahun. Sebagai keponakan dan murid dari engkong M. Nur.

Komentar
Posting Komentar