Langsung ke konten utama

Persebaran Silat Beksi di Petukangan Masa Sekarang

Persebaran Silat Beksi di Petukangan Masa Sekarang

Setelah silat Beksi masuk di Petukangan dan diwariskan kepada para murid H. Godjali, silat Beksi mengalami disseminasi. Sebenarnya H. Godjali memiliki banyak murid, tetapi yang berhasil menyebarkan dan mempunyai perguruan silat tersendiri, adalah keempat murid utamanya yang tersebut di poin atas. Silat Beksi kemudian mempunyai banyak jalur sanad keilmuan, dengan ciri khas masing masing guru, yang merupakan keempat murid utama H. Godjali. Ada lebih dari 20 perguruan silat Beksi di Petukangan dari masing-masing jalur guru. Di antara keempat murid yang mewarisi silat Beksi H. Godjali, hanya dari jalur Simin saja, yang keluarganya tidak diizinkan membuka perguruan.

Perguruan silat Beksi dari jalur Mandor Minggu, tercatat ada 4-6 perguruan, dari jalur H. Hasbullah tercatat 8 perguruan dan dari jalur M. Nur terdapat 4-6 perguruan silat di seputaran Petukangan. Persebaran silat Beksi di luar Petukangan tidak diketahui jumlahnya, karena belum ada data valid yang penulis temukan. Beberapa perguruan silat Beksi di Petukangan, diteruskan oleh pihak keluarga, entah itu anak langsung, keponakan, cucu ataupun cicit dari masing-masing jalur guru, kecuali dari jalur Simin.

 Suasana saat foto bersama
di perguruan silat Beksi jalur Mandor Minggu (Foto diberikan atas kebaikan hati Deni Priya Prasetya)

Disebabkan di masa itu tidak ada ijazah tertulis, yang menyatakan seorang murid telah berhak mengajar silat Beksi, secara mandiri dari jalur gurunya. Satu-satunya pernyataan bahwa seorang murid telah berhak untuk mengajar atau membuka perguruan silat Beksi dari gurunya, adalah dengan mekanisme ucapan lisan dalam kalimat ijab qobul. Beberapa penetapan wisuda, dilakukan dengan rahasia dan beberapa lainnya dengan disaksikan oleh para murid yang lain. Hal itu dapat terjadi setelah si murid itu dianggap paripurna belajar silat oleh gurunya, atau memang atas perintah gurunya membuka perguruan (mengajar) walaupun belum sempurna pelajarannya.
Proses pengajaran saat ini, biasanya dilakukan di padepokan di salah satu guru. Pengajaran silat dilaksanakan di sebuah lapangan, taman, sanggar atau bahkan beberapa di sebuah balai. Proses pengajaran silat, yang terpenting bukan tempatnya, tetapi pesan yang diajarkannya. Proses pengajaran silat Beksi, kadang-kadang juga diikuti oleh pengajaran musik setelah selesai belajar silat, terutama untuk mengenang tradisi bermusik warga Petukangan, sebelum dikenal sebagai kampung silat Beksi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peta Petukangan

Peta Petukangan berada di bawah administrasi distrik Kebayoran tahun 1940. Beberapa tanda situs makam dan masjid dapat diidentifikasikan lokasinya. (Reyhan Biadilla, 280119)

Silsilah dan Jalur Sanad Pengajaran 4 Murid Utama Silat Beksi

Silsilah dan Jalur Sanad Pengajaran 4 Murid Utama Silat Beksi H. Hasbullah H. Hasbullah dilahirkan di Petukangan pada tahun 1863. Ayahnya bernama H Misin, yang masih merupakan keponakan dengan H. Gatong, sehingga silsilah H. Hasbullah dengan H. Godjali adalah keponakan dengan paman. Pada saat itu jika umur antara paman dengan keponakan tidak jauh berbeda, maka biasanya sang paman dipanggil dengan sebutan abang , bukan ncang . Proses belajarnya H. Hasbullah dalam silat Beksi kepada H. Godjali tergolong unik, sebab H. Godjali yang saat itu telah menguasai jurus dasar silat Beksi, hanya mengajaknya bersama teman sepermainannya, untuk belajar silat Beksi. Saat itu belum ada syarat apapun dari guru kepada muridnya, tetapi dapat berakar kuat jalinan batinnya. H. Hasbullah sendiri telah mempunyai ilmu silat kotek sebelum belajar silat Beksi dari H. Godjali.   Sketsa wajah H. Hasbullah (Sketsa diberikan atas kebaikan hati Iwan Ridwan) Kecerd...

Kong Simin

Simin Murid H. Godjali lainnya dalam silsilah ilmu silat Beksi, adalah  engkong Simin  (selanjutnya  hanya  disebut  namanya  saja  untuk  mempersingkat  tulisan). Dilahirkan pada tahun 1881 dan wafat pada tanggal 22 Oktober 1992. Simin sendiri adalah  kakak  dari  M.  Nur,  jawara  lain  dalam  silsilah  ilmu  silat  Beksi  di Petukangan. Ayah Simin bernama Syua’ib,  atau warga lama Petukangan menyebutnya dengan sebuat  Aip. Dia adalah pedagang ikan di pasar Kebayoran dan seputaran Petukangan. Suatu ketika saat bertransaksi jual-beli ikan di Pasar Ikan (vish markt), Batavia Lama, Syu’aib dipukuli oleh para centeng  Pasar Ikan karena suatu masalah. Simin yang waktu itu masih kecil dan mendampingi ayahnya bertransaksi jual-beli ikan, hanya dapat  melihat dan menangis karena tidak dapat menolong ayahnya. Bermula  dari  peristiwa  tersebut,...