Mandor Minggu
Mandor Minggu adalah salah satu murid dari H. Godjali, yang juga meneruskan dan membuka perguruan silat Beksi. Ayah
Mandor Minggu bernama Sinan dan ibunya bernama Julia binti Sidi. Tahun
kelahiran Mandor Minggu tidak diketahui secara pasti,
namun diperkirakan sekitar
tahun 1890-1900, dimana
secara usia, tidak terpaut jauh dari usia M. Nur. Menurut penuturan
keluarga, tahun wafatnya sekitar tahun 1970. Hingga saat ini, makamnya tidak
diberi nisan dan hanya berupa gundukan tanah pada lahan kecil di tengah
pemukiman. Lahan kecil yang digunakan
sebagai tempat peristirahatannya yang terakhirnya
saat ini, dahulu merupakan halaman
rumahnya yang megah dan
berarsitektur khas Betawi.
Secara fisik, perawakannya tinggi besar dan berkulit putih.
Selama hidupnya, menurut narasumber, Mandor Minggu telah memiliki 5 istri, yang
bernama Asenah, Juriah, Yani, Mardiah dan satu lagi tidak diketahui namanya.
Menurut penuturan, selama hidupnya Mandor Minggu adalah orang yang santun,
tetapi tegas terhadap kondisi yang menurutnya tidak sesuai. Pekerjaan utamanya
dahulu, adalah seorang kepala keamanan dari kampung Petukangan atau semacam sinder (pengawas pabrik atau perkebunan
milik pemerintah) dan dari situlah dia mendapatkan nama panggilannya, mandor.
Mandor Minggu menjadi
salah satu murid awal yang utama dari H. Godjali
bersama H. Hasbullah, Simin dan M. Nur. Ketika H. Godjali sedang tiada di
kampung Petukangan, pengajaran silat Beksi dilanjutkan oleh Ki Marhalli di Dadap
ataupun di Petukangan. Tidak seperti tiga sahabatnya yang lain, Mandor Minggu jarang sekali terdengar bahwa dia
terlibat konflik dengan pemerintah kolonial, sehingga dia tidak pernah menjadi
incaran pemerintah.
Sketsa
wajah Mandor Minggu
(Sketsa
diberikan atas kebaikan hati Iwan Ridwan)
Sebagai salah satu orang yang bertanggungjawab atas
keamanan warga kampung Petukangan, Mandor Minggu menjadi salah satu palang
pintu yang menghadang potensi konflik. Ketika pasukan Jepang pimpinan Kapten
Abe menjarah kampung-kapung di seputaran Serpong hingga Ciledug, bersama
sahabatnya, M. Nur, dia menolak kedatangan tentara Jepang yang bermaksud
menjarah. Akibatnya, dia ikut dicari oleh pihak Jepang, walaupun saat itu
posisi Jepang sudah kalah perang.
Saat peristiwa rapat raksasa di lapangan Ikada di bulan
September 1945, bersama ketiga sahabatnya yang
lain, dia diperintahkan oleh gurunya, untuk ikut mengamankan kondisi di
sana. Selama masa Bersiap pada tahun 1946, Mandor
Minggu
secara aktif, ikut mengamankan daerah Petukangan, terutama dari Laskar
Ubel-ubel yang bergerak dari daerah Curug, Tangerang. Laskar pimpinan Kyai
Achmad Chaerun ini sebenarnya bermaksud
mengacaukan pasukan Belanda,
tetapi justru sering anggota laskarnya, mengacaukan pergerakan pasukan
BKR dan seringnya merampok rakyat
di wilayah yang dilaluinya. Hal itu terjadi
selama bulan September hingga
awal November 1945, sebelum berhasil digulung oleh pasukan BKR. Saat terjadi peristiwa
Lengkong di Serpong
pada bulan Januari
1946, dia ikut bersama untuk mengamankan dan mengawal pasukan pimpinan Mayor Daan
Mogot. Namun sayangnya saat itu, kondisi kacau balau yang menyebabkan puluhan pasukan TKR tewas.
Saat Jakarta kemudian diduduki NICA dan Republik Indonesia terbatas pada garis demarkasi pada tahun
1946, Mandor Minggu hanya sebentar saja pergi ke Bekasi dan Karawang
mengikuti sahabatnya. Sebagai
seorang jawara, dia dicari karena NICA ingin memanfaatkannya
sebagai pasukan Bumiputra. Dia menolak, karena
dalam prinsipnya, beladiri
silat bukan untuk
berkelahi dan menindas rakyat. Sehingga lebih baik mati, daripada membantu
NICA Belanda, menguasai Indonesia kembali.
“cari temen, jangan cari musuh, tapi kalo ada
jangan lari”
atau dengan
kata lain, dengan istilah buka lari yang
berarti: “sebelum loe jual, gue udeh beli
duluan”.
Sekalipun sering bersikap keras terhadap kondisi, Mandor
Minggu secara pribadi adalah seorang yang santun dalam bertutur kata dan begitu
penyabar, sehingga sebisa mungkin pertarungan dihindari jika memang tidak
menghasilkan faedah untuk diri dan sekitarnya. Oleh sebab itu, dia adalah orang
yang selalu berdisiplin dalam setiap sesuatu, sehingga kedisiplinan tersebut
dituangkan dalam pembelajaran ilmu silat Beksi, yaitu setahap demi setahap.
Sebuah cerita di tahun 1970-an, pernah para jawara silat Beksi Petukangan di-sambut (dalam bahasa Indonesia; ditantang atau diuji kemampuan)
oleh warga Jombang (Sudimara saat ini). Sambut-an
itu diterima oleh para jawara,
terutama Mandor Minggu, H. Hasbullah, Simin dan
M. Nur. Semua perlengkapan dan
panggung sudah disiapkan
oleh warga Jombang. Warga Petukangan serentak
hadir dengan menggunakan kereta api sebanyak
empat gerbong ke sana. Beberapa warga dari desa-desa di sekitar
Petukangan dan Jombang, sudah lebih
dulu hadir.
Melihat antusiasme dari warga Petukangan dan para jawara silat Beksi, warga Jombang yang mengundang sambut-an serta merta membatalkan acara tersebut dan hanya sekedar
menyambut kedatangan para jawara silat Beksi dengan
bersilaturahmi saja. Maksud utama adanya acara sambut-an tersebut adalah, upaya
mempermalukan warga Petukangan bahwa silat Beksi akan mudah dikalahkan oleh jawara-jawara dari Jombang (Sudimara). Begitu
mereka telah sadar akan sejarah dan kemampuan warga Petukangan yang diwakili oleh para jawara-nya, akhirnya mereka justru
berkecil hati, dengan membatalkan acara tersebut dan kemudian meminta agar para
jawara, termasuk Mandor Minggu, untuk
menerima beberapa generasi muda warga Jombang belajar silat Beksi.
Murid-murid silat Beksi dari jalur Mandor Minggu saat ini,
berasal dari Bekasi, Karawang, Tangerang Selatan bahkan ada yang berasal dari
Irian (Papua). Walaupun telah mempunyai kemampuan serta jabatan, menurut
penuturan keluarganya, petuah Mandor Minggu menyatakan itu hanya titipan dan
jangan dibuat pamer. Sedapat mungkin bersabarlah dan saat seseorang menjadi
pegawai pemerintah. Pesan utama Mandor Minggu adalah, dengan sepenuh hati
bekerja dengan baik membantu warga yang membutuhkan, sebab itu merupakan
salah satu sarana ibadah.

Komentar
Posting Komentar