Peta daerah Ulujami dan Kebayoran (termasuk
Petukangan) tahun 1883 (Sumber peta: http://maps.library.leiden.edu)
Sedangkan menurut penuturan penduduk lokal, pemberian nama
Petukangan berasal dari aktifitas me-nembok,
yaitu aktifitas bekerja membatik
cap. Sebab pada masa lalu, banyak penduduk Petukangan bekerja sebagai buruh
pabrik batik cap di Kebayoran Lama. Beberapa sumber lainnya menyatakan, bahwa dahulu
warga Petukangan ahli dalam
membuat dan memperbaiki sepatu, sehingga orang-orang di sekitarnya, menyebut
nama daerah asal para tukang sepatu
tersebut, menjadi Petukangan. Menurut sebuah cerita,
pada tahun 1962, ada seorang tukang
sepatu dari daerah
Petukangan yang berangkat ke mandala
Operasi Trikora. Dia sudah diperingatkan oleh koleganya agar tidak berangkat ke sana. Sang tukang sepatu tidak
menggubrisnya dan hingga kini,
dia tidak pernah
kembali lagi ke Petukangan. Di daerah
sekitar petukangan, terdapat
toponimi Pengumben dan Tanah Kusir, tempat dilekatkannya warga yang bekerja di bidang sarana transportasi.
Pada masa kolonial, secara geografis daerah Petukangan
berada di antara Kawedanan Ulujami di sebelah selatan dan Pengumben di sebelah
utara. Di sebelah barat Petukangan terdapat daerah Kreo dan Larangan, sedangkan
di sebelah timurnya terdapat daerah Cipulir dan ibukota Kawedanan Kebayoran.
Petukangan secara yurisdiksi dan administrasi, berada di bawah administrasi
Desa (Onderdistrik) Uludjami,
Kawedanan (Distrik) Kebayoran, Kabupaten Meester
Cornelis, Karesidenan Batavia. Setelah kemerdekaan, daerah Petukangan justru
dimasukkan di bawah administrasi Kabupaten Tangerang, tetapi setelah dekade
tahun 1970, Petukangan dikembalikan lagi menjadi bagian dari Daerah Khusus
Ibukota Jakarta, dengan batas administrasi mengikuti garis demarkasi Kawedanan
Kebayoran.

Komentar
Posting Komentar