Langsung ke konten utama

Transformasi Silat Beksi di Petukangan



Transformasi Silat Beksi di Petukangan

 Dari Beladiri Menjadi Pengembangan Seni Lainnya
Petukangan sebagai salah satu pusat dari pembelajaran budaya yang ada di ranah Betawi, secara otomatis menjadi salah satu rujukan jika ingin melihat kebudayaan besar Betawi. Kebudayaan besar Betawi sendiri terbagi ke dalam beberapa wilayah besar sebagaimana tergambar pada peta yang disusun oleh C.D Grijns. Peta tersebut menggambarkan apa saja yang menjadi perkembangan budaya Betawi pada daerah-daerah yang ada, sesuai dengan tanda yang diberikan. Petukangan termasuk daerah yang berada dan mempunyai hasil budaya Betawi yang paling lengkap di Jakarta.

Peta persebaran seni budaya tari, topeng, wayang kulit dan wayang golek
di daerah sekitar Petukangan pada tahun 1969 (Sumber peta: C. D. Grijns, Kajian Bahasa Melayu-Betawi)

Salah   satu   hasil   kebudayaan   Betawi   di   Petukangan,   adalah   tradisi   seni
maenpukulan Beksi. Semenjak awal dibentuk atau diciptakan, gerakan silat di Indonesia adalah gerakan yang mengekspresikan sesuatu. Gerakan-gerakan silat yang ada, dapat merupakan adopsi dari gerakan hewan atau aktifitas alam tertentu. Sehingga kemudian gerakan silat akan memunculkan gerakan sealur dalam seni tari.
Silat yang pada awalnya merupakan gerakan yang diciptakan untuk mengekspresikan sesuatu, terutama setelah melihat dari gerakan hewan dan senandung alam, lalu dikembangkan menjadi seni tari. Seni tarian tersebut kemudian dikenal dengan nama pencak. Penggabungan kata pencak dan silat, menjadi kalimat pencak silat adalah gerakan tarian yang bersambung dan mempunyai makna gerakannya mempunyai keteraturan dalam harmoni.
Sebagaimana telah disinggung di awal, bahwa keteraturan gerakan itu kemudian dikembangkan menjadi alat pertahanan diri dalam bentuk ekspresi, kekuatan, estetika dan pengembangan pribadi seseorang atau kelompok yang telah menguasai gerakan-gerakan dasarnya. Ketika telah terjadi pengembangan seni tari menjadi gerakan beladiri, itu tidak akan menghilangkan jejaknya dari tujuan awalnya. Seni beladiri di Jawa dan Sumatera paling awal, diketahui berasal dari daerah Cimande, Bogor dan Minang, kemudian menyebar luar, terutama ke pusat pemerintahan dan ekonomi di masa itu, Batavia (Jakarta kemudian).
Seni beladiri pencak silat atau yang biasa disebut dalam lingkungan Betawi, maenpukulan, adalah bagian dari sebuah eksistensi diri dan komunitasnya di tiap wilayah. Sehingga pada zaman itu, menjadi jawara adalah kebangganggan bagi diri dan daerahnya. Daerah asal para jawara, akan menjadi rujukan bagi personal yang akan mempelajari ilmu beladiri.
Saat ini silat sudah tidak lagi menjadi satu-satunya sarana eksistensi diri dan wilayah, tetapi memang masih tetap digunakan sebagai alat pertahanan. Harus diakui bahwa telah terjadi pengembangan, dari hanya dikenal sebagai maenpukulan saja dengan kesan yang eksklusif, menjadi sesuatu yang inklusif (terbuka). Keterbukaan itu meliputi pengembangan diri dalam seni yang lainnya, seperti tari, musik, pertunjukan dan sastra.
Di antara seni pertunjukan yang paling dikenang oleh warga Petukangan dan para pesilat Beksi, adalah saat H. Hasbullah didapuk menjadi kakek pelatih silat dari Rhoma Irama, dalam film layar lebar Darah Muda. Lain lagi yang diperankan oleh M. Nur dalam sebuah serial drama di TVRI pada tahun 1980-1990, dimana konten di dalamnya berisi pelajaran dan aktifitas heroik dengan media silat Beksi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peta Petukangan

Peta Petukangan berada di bawah administrasi distrik Kebayoran tahun 1940. Beberapa tanda situs makam dan masjid dapat diidentifikasikan lokasinya. (Reyhan Biadilla, 280119)

Silsilah dan Jalur Sanad Pengajaran 4 Murid Utama Silat Beksi

Silsilah dan Jalur Sanad Pengajaran 4 Murid Utama Silat Beksi H. Hasbullah H. Hasbullah dilahirkan di Petukangan pada tahun 1863. Ayahnya bernama H Misin, yang masih merupakan keponakan dengan H. Gatong, sehingga silsilah H. Hasbullah dengan H. Godjali adalah keponakan dengan paman. Pada saat itu jika umur antara paman dengan keponakan tidak jauh berbeda, maka biasanya sang paman dipanggil dengan sebutan abang , bukan ncang . Proses belajarnya H. Hasbullah dalam silat Beksi kepada H. Godjali tergolong unik, sebab H. Godjali yang saat itu telah menguasai jurus dasar silat Beksi, hanya mengajaknya bersama teman sepermainannya, untuk belajar silat Beksi. Saat itu belum ada syarat apapun dari guru kepada muridnya, tetapi dapat berakar kuat jalinan batinnya. H. Hasbullah sendiri telah mempunyai ilmu silat kotek sebelum belajar silat Beksi dari H. Godjali.   Sketsa wajah H. Hasbullah (Sketsa diberikan atas kebaikan hati Iwan Ridwan) Kecerd...

Kong Simin

Simin Murid H. Godjali lainnya dalam silsilah ilmu silat Beksi, adalah  engkong Simin  (selanjutnya  hanya  disebut  namanya  saja  untuk  mempersingkat  tulisan). Dilahirkan pada tahun 1881 dan wafat pada tanggal 22 Oktober 1992. Simin sendiri adalah  kakak  dari  M.  Nur,  jawara  lain  dalam  silsilah  ilmu  silat  Beksi  di Petukangan. Ayah Simin bernama Syua’ib,  atau warga lama Petukangan menyebutnya dengan sebuat  Aip. Dia adalah pedagang ikan di pasar Kebayoran dan seputaran Petukangan. Suatu ketika saat bertransaksi jual-beli ikan di Pasar Ikan (vish markt), Batavia Lama, Syu’aib dipukuli oleh para centeng  Pasar Ikan karena suatu masalah. Simin yang waktu itu masih kecil dan mendampingi ayahnya bertransaksi jual-beli ikan, hanya dapat  melihat dan menangis karena tidak dapat menolong ayahnya. Bermula  dari  peristiwa  tersebut,...