Langsung ke konten utama

Transformasi Silat Beksi di Petukangan



Pada masa modern saat ini, mempelajari silat dan menjadi jagoan bukan lagi tujuan. Telah terjadi pergeseran paradigma, dari menjadi jawara kampung, menjadi jawara di dalam arena perlombaan dan even kejuaraan, baik di tingkat lokal maupun nasional. Para jawara dan orang-orang yang berkecimpung di dalam ilmu silat Beksi, kemudian mengembangkan silat Beksi, tidak hanya semata-mata dipelajari sebagai seni beladiri saja. Mereka semua telah menjadi pelaku bagi pelestarian sejarah diri dan hasil budaya lingkungannya. Generasi muda penerus silat Beksi, kini telah diberi bekal pengembangan diri yang lebih baik, dengan menjadi seniman musik rebana Gedigdug, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh H. Godjali sebagai seniman musik, sebelum menjadi guru awal silat Beksi.


Pesilat muda Beksi, berlatih alat musik rebana (Foto diberikan atas kebaikan hati Abdul Aziz)
 Pada seni pertunjukan dapat dilihat, jika ada warga yang sedang mengadakan hajat dalam prosesi pernikahan. Ada beberapa sesi yang harus dilalui dalam tradisi prosesi pernikahan adat Betawi, seperti sesi Palang Pintu, dimana pihak pelamar laki-laki meminta izin datang kepada besan pihak perempuan. Sesi permintaan izin tersebut, dilakukan dengan adanya pertunjukan berbalas pantun dan adu jawara pencak silat (maenpukulan). Prosesi palang pintu ini hampir mirip, seperti yang ada di dalam tradisi warga Sunda di Cimande. Itu terlihat ketika seorang jawara wakil keluarga mempelai wanita membawa dandang (dalam bahasa Sunda: Seèng), untuk direbut oleh jawara dari pihak mempelai laki-laki. Simbol berupa dandang, adalah simbol kemakmuran keluarga dan kesetiaan wanita terhadap suaminya. Semua itu menggambarkan transformasi perkembangan, dari seni beladiri, menjadi seni sastra dan pertunjukan, yang dilakukan oleh warga Petukangan.

Prosesi balas pantun dalam prosesi palang pintu
(foto diberikan atas kebaikan hati Abdul Aziz)

Adu jawara dalam prosesi palang pintu
(foto diberikan atas kebaikan hati Abdul Aziz)

Jika melihat perkembangan budaya dalam silat Beksi di Petukangan, kita akan menemukan banyaknya akulturasi budaya. Tidak dapat dinafikan bahwa semua hal yang dilihat, merupakan perpaduan budaya dan kini diakui sebagai kebudayaan asli Betawi di Petukangan. Silat Beksi sendiri merupakan akulturasi dari tradisi Tionghoa, sekalipun memang besar dan tumbuh di Petukangan dan telah diakui sebagai budaya asli Betawi. Alunan musik dari grup rebana, adalaah perpaduan budaya Arab, dimana alat musiknya memang berasal dari tradisi Arab. Sedangkan beberapa bagian dari prosesi dalam seni sastra berupa pantun, adalah tradisi dari Minang dan prosesi tradisi palang pintu, merupakan tradisi dari Sunda.
Menilik bahwa semua tradisi yang bertumbuh-kembang di lingkungan Betawi, sedikit banyak akan diakui sebagai hasil kebudayaan Betawi. Kita harus mengakui bahwa silat Beksi dan segala potensi akulturasi yang berkembang di dalamnya, juga merupakan budaya besar bersama seluruh warga Betawi. Sekalipun itu merupakan penggabungan dari potongan-potongan kecil dari budaya di luar etnis Betawi, tetapi karena tumbuh dan telah dikembangkan oleh warga Betawi, maka bolehlah kita menyatakan, bahwa itu merupakan budaya asli Betawi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peta Petukangan

Peta Petukangan berada di bawah administrasi distrik Kebayoran tahun 1940. Beberapa tanda situs makam dan masjid dapat diidentifikasikan lokasinya. (Reyhan Biadilla, 280119)

Silsilah dan Jalur Sanad Pengajaran 4 Murid Utama Silat Beksi

Silsilah dan Jalur Sanad Pengajaran 4 Murid Utama Silat Beksi H. Hasbullah H. Hasbullah dilahirkan di Petukangan pada tahun 1863. Ayahnya bernama H Misin, yang masih merupakan keponakan dengan H. Gatong, sehingga silsilah H. Hasbullah dengan H. Godjali adalah keponakan dengan paman. Pada saat itu jika umur antara paman dengan keponakan tidak jauh berbeda, maka biasanya sang paman dipanggil dengan sebutan abang , bukan ncang . Proses belajarnya H. Hasbullah dalam silat Beksi kepada H. Godjali tergolong unik, sebab H. Godjali yang saat itu telah menguasai jurus dasar silat Beksi, hanya mengajaknya bersama teman sepermainannya, untuk belajar silat Beksi. Saat itu belum ada syarat apapun dari guru kepada muridnya, tetapi dapat berakar kuat jalinan batinnya. H. Hasbullah sendiri telah mempunyai ilmu silat kotek sebelum belajar silat Beksi dari H. Godjali.   Sketsa wajah H. Hasbullah (Sketsa diberikan atas kebaikan hati Iwan Ridwan) Kecerd...

Kong Simin

Simin Murid H. Godjali lainnya dalam silsilah ilmu silat Beksi, adalah  engkong Simin  (selanjutnya  hanya  disebut  namanya  saja  untuk  mempersingkat  tulisan). Dilahirkan pada tahun 1881 dan wafat pada tanggal 22 Oktober 1992. Simin sendiri adalah  kakak  dari  M.  Nur,  jawara  lain  dalam  silsilah  ilmu  silat  Beksi  di Petukangan. Ayah Simin bernama Syua’ib,  atau warga lama Petukangan menyebutnya dengan sebuat  Aip. Dia adalah pedagang ikan di pasar Kebayoran dan seputaran Petukangan. Suatu ketika saat bertransaksi jual-beli ikan di Pasar Ikan (vish markt), Batavia Lama, Syu’aib dipukuli oleh para centeng  Pasar Ikan karena suatu masalah. Simin yang waktu itu masih kecil dan mendampingi ayahnya bertransaksi jual-beli ikan, hanya dapat  melihat dan menangis karena tidak dapat menolong ayahnya. Bermula  dari  peristiwa  tersebut,...